Site icon RMTVNEWS.COM

Bank Indonesia: Rupiah akan Cenderung Menguat, Didukung Fundamental Ekonomi yang Kuat

Gubernur Perry Warjiyo

Jakarta – Gubernur Perry Warjiyo menegaskan nilai tukar rupiah ke depan diproyeksikan akan cenderung menguat, seiring kuatnya fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan geopolitik global.

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, serta komitmen menjaga stabilitas,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode April 2026 di Jakarta, Rabu (22/4).

Dalam RDG yang berlangsung pada 21–22 April 2026, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%. Level tersebut telah dipertahankan sejak September 2025.

Perry menyampaikan, kondisi ekonomi domestik tetap solid meski dibayangi ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia didukung fundamental yang kuat.

“Kami tegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi dampak geopolitik,” katanya.

Ia menjelaskan, kekuatan tersebut tercermin dari inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, yakni di atas 5%. Stabilitas nilai tukar rupiah juga terjaga, ditopang pertumbuhan kredit serta indikator ekonomi lainnya yang solid.

Bahkan, menurut Perry, saat ini nilai tukar rupiah berada pada level undervalued dibandingkan fundamentalnya, sehingga membuka ruang penguatan ke depan.

“Nilai tukar akan kami jaga stabil dan cenderung menguat. Saat ini rupiah masih undervalued dibandingkan fundamental,” ujarnya.

Selain itu, kondisi neraca pembayaran Indonesia juga tetap sehat dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, serta didukung cadangan devisa yang kuat.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia terus mengarahkan bauran moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap dalam sasaran 2,5% ±1%. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan intensitas intervensi di pasar valas, baik melalui offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot domestik, maupun domestic non-deliverable forward (DNDF).

Upaya stabilisasi ini diperkuat oleh cadangan devisa sebesar 148,2 miliar dolar AS yang dinilai lebih dari cukup untuk menjaga kestabilan rupiah.

Selain intervensi, BI juga memperkuat daya tarik instrumen moneter melalui penyesuaian suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kenaikan suku bunga instrumen tersebut dalam sebulan terakhir telah mendorong aliran masuk modal asing ke SRBI maupun Surat Berharga Negara (SBN), sehingga turut menopang stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal di tengah tekanan global.

Di sisi likuiditas, Bank Indonesia tetap menjaga kebijakan yang akomodatif dengan mendorong pertumbuhan uang primer (M0) pada level dua digit. Tercatat, pertumbuhan M0 mencapai 11,8% dan akan dijaga di atas 10%, bahkan berpotensi mencapai 12%, guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Secara keseluruhan, bauran kebijakan tersebut mencerminkan stance moneter yang pro-stabilitas sekaligus ekspansif dari sisi likuiditas, serta diperkuat melalui sinergi erat dengan pemerintah untuk menjaga ketahanan eksternal dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Exit mobile version