Site icon RMTVNEWS.COM

Bank Mandiri: Tekanan Global Masih Jadi Tantangan Prospek Ekonomi Indonesia

Bank Mandiri

Narasumber dalam Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5).

Jakarta – Direktur Treasury & International Banking Ari Rizaldi menilai tekanan global masih menjadi tantangan utama bagi prospek perekonomian Indonesia ke depan, meski pertumbuhan ekonomi domestik pada kuartal I 2026 menunjukkan kinerja yang solid.

Dalam acara Mandiri Macro and Market Brief 2Q26 di Jakarta, Senin (11/5), Ari mengatakan ketidakpastian global saat ini masih tinggi akibat meningkatnya tensi geopolitik dan volatilitas pasar keuangan internasional.

“Perekonomian global saat ini masih dihadapkan pada tingkat ketidakpastian yang tinggi, dipicu oleh berbagai faktor geopolitik, peningkatan inflasi global, serta meningkatnya volatilitas di pasar keuangan,” ujar Ari.

Ia menyoroti konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan titik temu. Kondisi tersebut, kata dia, telah mendorong harga minyak dunia melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel.

“Kenaikan harga energi ini tentu saja menyebabkan risiko inflasi global meningkat. Kita lihat volatilitas di pasar keuangan global juga semakin tinggi akibat sentimen terganggunya pasokan minyak dunia,” katanya.

Menurut Ari, situasi tersebut memicu bank sentral global menunda pelonggaran moneter. Konsensus pasar saat ini memperkirakan suku bunga Amerika Serikat akan bertahan di level 3,75 persen hingga 2027.

Tekanan eksternal itu juga berdampak ke pasar domestik. Hingga 8 Mei 2026, nilai tukar rupiah tercatat melemah 3,9 persen sepanjang tahun berjalan. Di saat yang sama, aliran modal asing keluar dari pasar saham mencapai Rp37,6 triliun dan dari pasar obligasi sebesar Rp13,3 triliun.

Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 19,4 persen ke level 6.969, sementara imbal hasil obligasi pemerintah naik 53 basis poin menjadi 6,6 persen.

Meski demikian, Ari menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan global tersebut. Pada kuartal I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, ditopang konsumsi domestik dan percepatan belanja pemerintah.

“Kondisi ini menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi dari seluruh pelaku ekonomi, termasuk sektor perbankan. Karena itu, penting untuk terus memonitor berbagai sumber risiko global secara cermat serta memperkuat koordinasi kebijakan dan strategi mitigasinya,” ujarnya.

Ari menambahkan, sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan akan menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia juga optimistis akselerasi belanja fiskal pemerintah masih dapat menopang pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini, di tengah tekanan global yang belum mereda.

“Respons yang adaptif, disiplin dalam manajemen risiko, serta koordinasi kebijakan yang kuat menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” kata Ari.

Exit mobile version