Jakarta – Nilai tukar rupiah terus terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal akibat memanasnya geopolitik global dan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Pada perdagangan Selasa (12/5), rupiah ditutup melemah 114 point ke level Rp 17.528, dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.414.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan otot rupiah masih akan melemah pada perdagangan Rabu besok.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.520- Rp17.580,” kata Ibrahim kepada wartawan, Selasa (12/5).
Menurutnya, pelemahan rupiah terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS yang dipicu meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat dan Iran tampak rapuh, dengan respons Teheran terhadap proposal AS menyoroti perbedaan mencolok yang membuat ketegangan kembali meningkat,” ujar Ibrahim.
Menurut dia, ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata dengan Iran berada dalam “kondisi kritis”. Perbedaan tuntutan kedua pihak meliputi penghentian permusuhan di semua lini, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, hingga kompensasi kerusakan perang.
Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman.
Selain itu, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan yang disebut memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok. Pemerintah AS juga mengumumkan rencana meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) guna meredam gejolak pasar minyak.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat yang dinilai akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
“Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah turut dipicu keraguan pasar terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, Ibrahim menilai capaian tersebut dipengaruhi efek basis rendah atau base effect.
“Angka 5,61% terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi,” ujarnya.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi saat ini belum sepenuhnya sehat karena masih banyak variabel yang perlu diwaspadai.
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari penurunan sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 yang menjadi kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir akibat lemahnya permintaan pascalibur serta meningkatnya tekanan produksi karena guncangan geopolitik dan pasokan.
Selain itu, pasar mencermati ketidakpastian arah kebijakan pemerintah terkait pengenaan royalti hasil tambang dan strategi penambahan pendapatan negara di tengah tingginya belanja pemerintah. Investor juga menunggu pengumuman MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global.

