JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) membukukan kinerja keuangan yang positif sepanjang Semester I 2026. Perusahaan mencatat laba bersih sebesar Rp8,51 triliun, meningkat 253 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain pertumbuhan laba, Pupuk Indonesia juga membukukan pendapatan sebesar Rp59,67 triliun, atau naik 51 persen secara tahunan.
Sementara itu, EBITDA perusahaan melonjak 140 persen menjadi Rp14,28 triliun, didorong oleh peningkatan volume produksi, efisiensi biaya operasional, serta keberhasilan transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan capaian tersebut merupakan hasil transformasi bisnis secara menyeluruh yang didukung pemerintah melalui Danantara.
“Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara, transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, melainkan juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional,” ujar Rahmad dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).
Perusahaan menerapkan strategi diversifikasi sumber pendapatan dengan memperkuat kontribusi segmen non-subsidi dan produk non-pupuk.
Selain itu, Pupuk Indonesia memperluas sumber pasokan dan skema kontrak bahan baku guna mengurangi dampak fluktuasi harga komoditas global terhadap struktur biaya produksi.
Transformasi perusahaan juga diperkuat melalui penerapan operational and digital excellence, penyederhanaan bisnis holding, peningkatan distribusi public service obligation (PSO), serta penguatan bisnis komersial.
Di sisi tata kelola, transformasi didukung oleh terbitnya Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang menjadi landasan efisiensi operasional perusahaan. Ke depan, Pupuk Indonesia juga menyiapkan program revitalisasi tujuh pabrik dalam lima tahun mendatang sebagai bagian dari optimalisasi portofolio aset BUMN.
Selain itu, perusahaan akan mengembangkan sejumlah bisnis baru, mulai dari produksi metanol beserta turunannya, pengembangan clean ammonia, hingga bisnis pendukung industri lainnya.
Transformasi tersebut juga berdampak pada peningkatan layanan kepada petani. Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia berhasil menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan itu didukung implementasi sistem i-Pubers yang mempermudah proses penebusan pupuk serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola distribusi pupuk bersubsidi.
Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi, atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
Dengan kapasitas produksi nasional mencapai sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap terpenuhi sekaligus memiliki ruang untuk memanfaatkan peluang pasar global.
Rahmad menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan bukan semata mengejar laba, melainkan membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani dan pelaku usaha di seluruh Indonesia.
“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, melainkan memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkasnya.

