JAKARTA – Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Media Wahyudi Askar kembali menyinggung soal tirani, kekuasaan, dan gerakan masyarakat. Dalam sebuah pernyataan yang beredar melalui video, Media menyebut sejumlah penguasa yang meninggalkan negaranya ketika menghadapi gejolak politik.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah aktivitas Askar Media pada Agustus 2026 yang membahas gerakan sosial dan keterlibatan masyarakat dalam mengawasi kekuasaan.
Pada 27 Agustus 2026, Media dalam sebuah kajian di Masjid Kampus UGM mendorong keterlibatan dosen, profesor, ulama, dan tokoh publik dalam gerakan sosial bersama mahasiswa.
“Jangan kita tertipu dengan seorang penguasa yang bicara di mimbar seakan-akan dia adalah orang yang paling kuat. Sejarah mencatat tirani itu penakut,” kata Media, dikutip pada Minggu (20/9/2026).
Ia kemudian menyebut mantan Presiden Suriah Bashar al-Assad dan mantan Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina sebagai contoh pemimpin yang meninggalkan negaranya setelah menghadapi gejolak politik.
“Saya kasih contoh terbaru saya, Bashar al-Assad, ketika revolusi terjadi, dia langsung pergi ke Rusia. Perdana Menteri Bangladesh, tahun lalu revolusi terjadi, dia kabur ke India,” ujar Media Askar.
Media kemudian membawa pembicaraan ke peristiwa politik Indonesia pada 1998.
“Dan kita pernah punya sejarah, ada orang yang tahun ’98 itu kabur ke Timur Tengah,” ucapnya.
Media Askar sendiri tidak menyebut nama tokoh yang dimaksud. Namun, dalam konteks kepergian tokoh Indonesia ke Timur Tengah pada 1998, keterangan tersebut berkaitan dengan Prabowo Subianto yang meninggalkan Indonesia dan kemudian berada di Yordania.
Prabowo sebelumnya diberhentikan dari jabatan Pangkostrad dan mengakhiri karier militernya setelah proses di Dewan Kehormatan Perwira pada Agustus 1998. Ia kemudian menuju Yordania.
Prabowo sendiri menggunakan istilah berbeda untuk menjelaskan kepergiannya. Dalam unggahan di akun X pribadinya pada 26 Februari 2014, Prabowo menulis:
“Pada pertengahan tahun 1998, saya dituduh macam-macam. Karenanya, saya memilih untuk mengasingkan diri ke Yordania.”
Keterangan tersebut juga dikutip dalam pemberitaan mengenai perjalanan Prabowo ke Yordania.
Media kemudian melanjutkan pernyataannya mengenai kekuasaan dan masyarakat.
“Jangan pernah berimajinasi bahwa ini adalah penguasa yang betul-betul pemberani. Tahu enggak apa yang ditakutkan oleh tirani? Yang ditakutkan oleh tirani itu adalah kemampuan masyarakat berorganisir,” ujar Media.
Ia menyebut filsafat, hukum, ekonomi, politik, serta kesenian dan kebudayaan sebagai bidang yang menurutnya berkaitan dengan kemampuan masyarakat membangun gerakan.
“Yang ditakutkan oleh tirani itu adalah ilmu filsafat, ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu politik, dan bahkan yang paling ditakutkan oleh tirani itu adalah ilmu keseniannya, kebudayaan,” katanya.
Media kemudian mengatakan pembangunan jejaring masyarakat di berbagai tempat dapat memengaruhi kekuasaan.
“Kalau kita bangun simpul-simpul titik ini di banyak tempat, saya yakin mereka akan gemetar. Jangankan sekarang ya, ya Agustus kemarin mereka udah gemetar. Apalagi kalau seandainya gerakan itu…,” tuturnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah aktivitas Askar Media pada Agustus 2026 yang membahas gerakan sosial dan keterlibatan masyarakat dalam mengawasi kekuasaan.
Pada 27 Agustus 2026, Media dalam sebuah kajian di Masjid Kampus UGM mendorong keterlibatan dosen, profesor, ulama, dan tokoh publik dalam gerakan sosial bersama mahasiswa.

