JAKARTA — Partai Gerindra mencatat elektabilitas tertinggi dalam survei nasional Poltracking Indonesia periode Agustus 2026 dengan angka 23,2 persen. Di saat yang sama, nama Prabowo Subianto masih menjadi sosok yang paling kuat melekat dalam ingatan publik ketika menyebut Partai Gerindra.
Dalam pengukuran top of mind terhadap partai politik, sebanyak 26,1 persen responden langsung mengaitkan Gerindra dengan Prabowo Subianto. Angka tersebut lebih tinggi dibanding asosiasi terhadap simbol Garuda yang mencapai 3,5 persen.
Temuan tersebut menunjukkan kuatnya keterkaitan antara identitas partai dan figur Prabowo dalam persepsi publik. Prabowo saat ini merupakan Presiden RI sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra.
Gerindra Unggul dalam Elektabilitas
Dalam simulasi surat suara 18 partai politik, Gerindra memperoleh elektabilitas 23,2 persen. Posisi berikutnya ditempati PDI Perjuangan (PDIP) dengan 11,6 persen dan Partai Golkar sebesar 10,4 persen.
Selanjutnya, PKB memperoleh 6,2 persen, Partai Demokrat 6,1 persen, NasDem 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Partai lainnya berada di bawah 1 persen.
Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro mengatakan angka tersebut merupakan gambaran pilihan responden apabila pemilu digelar pada saat survei dilakukan.
“Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibanding partai-partai lainnya,” kata Yoki dalam pemaparan hasil survei, Rabu (23/9/2026).
Survei dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 melalui wawancara tatap muka terhadap 1.220 responden di 38 provinsi. Poltracking menggunakan metode stratified multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen.
Prabowo Lebih Melekat daripada Identitas Partai
Data top of mind memberikan gambaran lain mengenai bagaimana partai dikenali publik.
Pada Gerindra, Prabowo Subianto menjadi nama yang paling banyak disebut dengan 26,1 persen. Pola serupa juga terlihat pada sejumlah partai lain.
PDIP paling banyak diasosiasikan dengan Megawati Soekarnoputri sebesar 17 persen.
Partai Demokrat dengan Susilo Bambang Yudhoyono sebesar 16 persen, sedangkan NasDem dengan Surya Paloh sebesar 11 persen.
Untuk Golkar, asosiasi terhadap lambang pohon beringin mencapai 6,4 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa figur politik masih menjadi salah satu pintu utama publik mengenali identitas partai, meski tingkat keterkaitannya berbeda-beda.
Pilihan Caleg Lebih Menonjol daripada Lambang Partai
Survei yang sama juga menemukan bahwa publik lebih cenderung menentukan pilihan legislatif berdasarkan figur calon dibandingkan partai politik.
Sebanyak 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih calon anggota legislatif, sedangkan 24,7 persen lebih cenderung memilih partai politik.
Temuan ini menjadi konteks penting bagi elektabilitas Gerindra. Tingginya angka partai tidak serta-merta berarti seluruh pilihan tersebut hanya ditentukan oleh identitas kelembagaan partai.
Survei Poltracking sendiri mengukur pilihan responden melalui simulasi dengan pertanyaan mengenai partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih jika pemilu digelar saat survei berlangsung.
Dengan demikian, angka 23,2 persen merupakan potret elektoral pada saat survei dilakukan, sementara kuatnya asosiasi Prabowo sebesar 26,1 persen menunjukkan bahwa figur ketua umum sekaligus presiden masih menjadi bagian penting dari cara publik mengingat Gerindra.
Poltracking menekankan bahwa hasil tersebut merupakan potret pada pertengahan Agustus 2026 dan dinamika elektoral masih dapat berubah mengikuti isu serta strategi masing-masing partai politik.

