RMTVNews, Indramayu – Di sebuah sudut Desa Cempeh, Indramayu, berdiri sebuah bangunan megah dengan 12 tiang kokoh yang menjulang. Namun, Masjid Al Mubarokah bukan sekadar soal arsitektur. Ia adalah cerita tentang perjalanan batin, ketulusan, dan niat sederhana yang tumbuh menjadi keberkahan besar dari sosok Hercules Rozario Marshall.
Awalnya, tak ada mimpi besar untuk membangun masjid. Tempat itu hanyalah mushala kecil yang didirikan untuk kebutuhan pribadi. Jarak masjid yang cukup jauh dari kediamannya membuat H. Hercules, sapaan akrabnya, berinisiatif menghadirkan ruang ibadah sederhana bagi dirinya dan keluarga.
“Saya bangunkan mushala ini sebenarnya untuk peribadi,” tuturnya lirih kemarin, seperti dikutip dari GRIB TV.
Namun, ketulusan sering kali menemukan jalannya sendiri. Bahkan sebelum Ramadan tiba, warga mulai berdatangan. Dari Subuh hingga Tarawih, mushala yang hanya mampu menampung sekitar 150 orang itu tak pernah sepi.
Suasana hangat dan keterbukaan tempat tersebut perlahan menarik hati masyarakat.
Hingga akhirnya, permintaan warga untuk melaksanakan Salat Idulfitri di lokasi itu menjadi titik balik yang tak terelakkan. Mushala itu pun bertransformasi menjadi masjid. Sebuah keputusan yang sempat membuat H. Hercules diliputi keraguan.
Ia khawatir langkah itu akan dipandang berlebihan. Namun, dorongan masyarakat dan kebutuhan umat membuatnya mantap melangkah.
Keunikan Masjid Al Mubarokah tak berhenti pada kisahnya. Proses pembangunannya pun jauh dari cara konvensional. Tidak ada arsitek ternama, tidak pula rancangan teknis yang rumit. Semua lahir dari naluri dan pengalaman batin sang pendiri.
H. Hercules merancang sendiri setiap sudutnya—dari pintu, posisi tiang, hingga bentuk kubah. Bahkan, ia tak ragu membongkar kembali bagian yang sudah jadi hanya karena merasa belum sesuai dengan gambaran yang ia rasakan, terutama setelah terinspirasi dari keindahan masjid di Tanah Suci.
“12 tiang itu melambangkan kekokohan, seperti pasukan bola sepak yang lengkap dengan penjaga gol dan kaptennya,” ujarnya, menjelaskan filosofi di balik bangunan tersebut.
Kini, Masjid Al Mubarokah telah menjelma menjadi jantung kehidupan desa. Ia bukan hanya tempat bersujud, tetapi juga ruang kebersamaan.
Setiap hari, jamaah disambut dengan teh, kopi, dan hidangan sederhana yang disediakan secara cuma-cuma, menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat.
Di sana, anak-anak yang dahulu menghabiskan waktu bermain, kini duduk rapi belajar mengaji dan tadarus. Kaum ibu pun aktif menghidupkan majelis taklim, menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan spiritual yang hidup.
Bagi Hercules Rozario Marshall, kebahagiaan terbesar bukanlah pada bangunan yang berdiri megah, melainkan pada perubahan yang ia saksikan setiap hari.
Senyum warga, lantunan ayat suci, hingga langkah kaki kecil menuju masjid—semuanya menjadi bukti bahwa niat tulus tak pernah sia-sia.
Ke depan, ia bahkan telah merencanakan perluasan bangunan masjid ke berbagai sisi, agar lebih banyak lagi jamaah yang dapat merasakan keberkahan yang sama.

