BALIKPAPAN – Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) V Balikpapan meningkatkan penyaluran Smooth Fluid 05 (SF-05), cairan dasar pengeboran yang diproduksi di Kilang Balikpapan, untuk mendukung kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) di kawasan Indonesia timur.
Dalam pengiriman terbaru ke proyek BP Tangguh LNG di Sorong, Papua Barat, volume SF-05 yang disalurkan mencapai 12.000 barel.
Jumlah tersebut meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan permintaan reguler yang berada di kisaran 3.000 hingga 5.000 barel per pengiriman.
General Manager Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan Novie Handoyo Anto mengatakan peningkatan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan permintaan yang selama ini berjalan.
“Angka ini melonjak hingga empat kali lipat dari rata-rata permintaan reguler,” kata Novie, dikutip pada Minggu (20/9/2026).
Pertamina berharap peningkatan permintaan SF-05 dapat berlanjut seiring dengan semakin luasnya penggunaan produk tersebut oleh pengembang lapangan migas.
SF-05 merupakan cairan dasar pengeboran berbasis sintetis yang diproduksi di Kilang Balikpapan.
Produk tersebut digunakan dalam proses pengeboran untuk membantu mendinginkan mata bor, melumasi pipa, serta menjaga kestabilan dinding sumur.
Produk tersebut telah dikembangkan Pertamina selama lebih dari satu dekade dan sebelumnya telah digunakan untuk mendukung operasi pengeboran Pertamina di Aljazair.
Pengiriman 12.000 barel SF-05 ke Sorong dilakukan melalui Jetty 5A RU V Balikpapan dengan melibatkan konsorsium mitra penyedia jasa pengeboran.
Perwakilan PT MI Indonesia Agung Heru Wijanarko menyebut konsistensi kualitas SF-05 menjadi salah satu faktor produk tersebut dapat digunakan dalam proyek berskala besar seperti LNG Tangguh.
Sementara itu, perwakilan PT Synergy Perkasa Sejahtera Benny Mamyo mengatakan penetrasi pasar domestik SF-05 merupakan hasil pengembangan dan riset yang telah berlangsung sekitar 10 tahun.
Perluasan pasokan ke Papua juga memperkuat posisi Kilang Balikpapan sebagai salah satu pemasok bahan kimia pendukung kegiatan hulu migas, sekaligus mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor energi.

