Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan Indonesia bersama sejumlah negara mayoritas Muslim bergabung dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP). Keputusan tersebut diambil setelah melalui pertimbangan matang dengan tujuan utama mendukung kemerdekaan Palestina secara penuh.
Dalam diskusi bersama pakar dan jurnalis senior di Hambalang, Bogor, Presiden menegaskan bahwa langkah Indonesia tersebut merupakan bagian dari komitmen jangka panjang terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ia juga menekankan bahwa Indonesia tetap konsisten mendorong solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan menuju perdamaian yang berkelanjutan.
“Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan diskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi kita bilang, kita dukung,” ujar Prabowo.
Presiden menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam pembentukan BoP berawal dari pidatonya pada Sidang Umum PBB pada 23 September. Dalam pidato tersebut, ia menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong implementasi solusi dua negara.
Tak lama setelah itu, Prabowo bersama para pemimpin negara mayoritas Muslim seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir yang tergabung dalam Group of Eight, diundang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas rencana perdamaian di Gaza.
Dalam pertemuan tersebut, utusan khusus AS Steve Witkoff memaparkan 21-point plan sebagai proposal menciptakan perdamaian berkelanjutan. Prabowo mengaku tertarik pada poin ke-19 dan ke-20 yang membuka peluang bagi Palestina untuk menjadi negara merdeka dan menentukan masa depannya sendiri, serta adanya fasilitasi dialog damai antara Israel dan Palestina.
Menurut Prabowo, usulan tersebut dinilai sejalan dengan pandangan Indonesia. Bahkan, para pemimpin negara mayoritas Muslim sepakat memberikan dukungan terhadap rencana tersebut setelah melalui diskusi intensif.
“We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel,” kata Prabowo mengingat pernyataan yang disampaikan kepada pihak AS dalam pertemuan tersebut.
Seiring perkembangan, gagasan pembentukan BoP kemudian muncul dan diadopsi dalam Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 2803. Delapan negara tersebut kembali berunding dan akhirnya memutuskan untuk bergabung guna memiliki ruang lebih besar dalam memengaruhi kebijakan yang berpihak pada Palestina.
“Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina,” ujar Presiden.
“Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa. Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk,” imbuhnya.
Namun demikian, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan ragu untuk keluar dari BoP apabila kebijakan yang dihasilkan tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional maupun perjuangan rakyat Palestina.
“Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita keluar,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Presiden berharap Indonesia bersama negara-negara lain dalam Group of Eight dapat memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian jangka panjang di Palestina.
“Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” tutup Prabowo Subianto.

