Site icon RMTVNEWS.COM

Presiden Prabowo Sebut Indonesia Stop Impor Solar Mulai Juli 2026

IMG_3501

Presiden Prabowo Subianto meninjau lokasi panen tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). (ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden)

MALANG – Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa Indonesia mulai stop impor solar sejak Juli 2026 setelah pemerintah berhasil mengembangkan bahan bakar diesel berbasis minyak sawit B50.

Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dari luar negeri.

Dalam sambutannya pada Panen Raya TNI dalam Mendukung Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7), Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mampu memproduksi B50, yakni solar dengan campuran 50 persen biodiesel berbahan baku kelapa sawit.

“Sebelumnya, kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang hasilkan solar dari kelapa sawit. Jadi, mulai bulan Juli ini kita tidak impor solar lagi dari luar negeri,” ujar Prabowo.

Menurut Presiden, penghentian impor solar akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk membeli solar dari luar negeri kini dapat beredar di dalam negeri dan memberikan manfaat langsung kepada petani kelapa sawit serta industri nasional.

“Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati oleh petani-petani sawit di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Selain B50, pemerintah juga terus mempercepat program transisi energi melalui pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol.

Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia mulai mengembangkan bensin dengan campuran etanol 10 persen (E10) sebagai tahap awal menuju pemanfaatan bioetanol yang lebih luas.

Pemerintah bahkan menargetkan peningkatan bauran bioetanol menjadi E20. Untuk mewujudkan target tersebut, pembangunan pabrik bioetanol baru akan dipercepat mengingat saat ini Indonesia baru memiliki satu fasilitas produksi bioetanol sehingga kapasitasnya masih terbatas.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam membangun ketahanan energi nasional berbasis sumber daya domestik, meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani dan mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

 

Exit mobile version