Jakarta – Perayaan Hari Buruh Internasional atau May Day yang digelar di kawasan Monumen Nasional menjadi momentum bagi para pekerja untuk menyampaikan aspirasi, terlebih acara tersebut dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ilhamsyah, Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, menyoroti persoalan yang dihadapi pekerja muda setelah menikah dan memiliki anak. Menurutnya, banyak keluarga buruh dihadapkan pada pilihan sulit dalam pengasuhan anak, yakni menitipkan anak di kampung halaman atau membuat salah satu pasangan berhenti bekerja untuk merawat anak di rumah.

“Kami berharap negara hadir untuk membuat daycare di tempat-tempat kawasan-kawasan industri, di pemukiman-pemukiman buruh agar anak-anak buruh bisa tumbuh kembang dengan baik, negara harus hadir untuk menciptakan manusia-manusia yang lebih baik ke depan dari balita sehingga anak-anak buruh bisa mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan pengasuhan yang baik,” ujarnya.

Selain pengasuhan anak, Ilhamsyah juga menyoroti kebutuhan hunian layak bagi para buruh. Ia mengatakan, banyak buruh tinggal di rumah yang sempit dan jauh dari lokasi kerja, sehingga harus menghadapi kemacetan setiap hari untuk menuju tempat kerja.

Karena itu, ia menyatakan dukungannya terhadap program sejuta rumah yang tengah dijalankan pemerintah. Namun, ia berharap program tersebut dapat terintegrasi dengan kawasan industri, sehingga buruh tidak perlu lagi mengendarai sepeda motor ke tempat kerja. Menurutnya, hal itu dapat menekan pengeluaran bahan bakar sekaligus mengurangi kemacetan.

“Perumahan yang terintegrasi dengan kawasan adalah jalan yang terbaik dan ini adalah cara kita untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, karena 20-30 persen pengeluaran dari upah habis untuk membayar kontrakan setiap bulannya,” kata Ilhamsyah.

Menanggapi aspirasi tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kebutuhan buruh terhadap hunian terjangkau menjadi salah satu perhatian pemerintah. Tahun ini, kata dia, pemerintah  membangun 350 ribu unit rumah dan menargetkan pembangunan 1 juta hunian.

“Rumah-rumah ini akan sesuai saran saudara, akan dibuat di klaster-klaster yang dekat dengan kawasan-kawasan industri, yang dekat dan tempat bekerja. Dan saya sudah rencanakan, kita akan bikin kota-kota baru. Kota-kota baru, tiap kota mungkin terdiri dari 100 ribu rumah, rumah susun 100 ribu. Saya perintahkan harus ada sekolah, harus ada fasilitas olahraga, harus ada daycare, harus ada rumah sakit, dan yang paling penting harus ada transportasi, entah kereta api ringan, bis, supaya pekerja bisa masuk ke pekerjaan dengan lancar dan baik,” ujar Prabowo.

Prabowo juga merespons beban pengeluaran buruh untuk biaya kontrak tempat tinggal. Ia menyatakan pemerintah ingin mengubah pola tersebut agar dana yang selama ini habis untuk kontrakan dapat dialihkan menjadi cicilan rumah milik sendiri.

“Saudara-saudara, tadi kalian mengatakan penghasilan kalian 30 persen untuk kontrak. Nanti, nanti kita bikinkan saudara nanti akan miliki rumah tersebut,” kata Prabowo.

Menurutnya, porsi pendapatan yang sebelumnya digunakan untuk kontrak sebaiknya dipakai untuk mencicil rumah, sehingga para pekerja pada akhirnya memiliki hunian sendiri. Skema cicilan pun, kata dia, akan dibuat fleksibel dan berjangka panjang agar tetap terjangkau bagi buruh.

“Jadi yang tadi 30 persen untuk kontrak kita kurangi, itu adalah untuk kau cicil rumahmu sendiri. Cicilnya kalau bisa 20 tahun, kalau nggak bisa 20 tahun 25 tahun, kalau belum lunas 25 tahun 30 tahun, kalau tidak bisa 25 tahun 40 tahun, karena buruh tidak mungkin lari ke mana-mana,” ujar Prabowo.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.