RMTVNews.com – Mana yang lebih tinggi, Tradisionalis Katolik atau Karismatik Katolik?
Pertanyaan ini kerap muncul di tengah perbedaan ekspresi iman dalam Gereja Katolik. Sebagian umat merasa lebih dekat dengan liturgi tradisional yang menekankan keheningan, kekhidmatan, dan kesinambungan tradisi.
Sebagian lainnya menemukan penghayatan iman melalui pujian, penyembahan, doa bersama, dan pengalaman karismatik.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari kekayaan kehidupan Gereja. Namun, persoalan muncul ketika preferensi spiritualitas berubah menjadi ukuran untuk menilai siapa yang “lebih Katolik”.
Jawabannya bukan bahwa salah satu kelompok lebih tinggi daripada yang lain. Pusat kehidupan Kristiani adalah Kristus, dan Ekaristi menempati kedudukan yang tidak dapat digantikan oleh identitas kelompok atau preferensi spiritualitas mana pun.
Konsili Vatikan II, melalui Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium art. 11, menyebut Ekaristi sebagai “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani”.
Penegasan ini menempatkan Ekaristi bukan sekadar salah satu praktik kesalehan, melainkan pusat kehidupan seluruh Gereja.
Karena itu, perdebatan antara tradisionalisme dan gerakan karismatik perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih mendasar: bagaimana keduanya membantu umat menghayati iman kepada Kristus dan hidup dalam persekutuan Gereja.
Memilih Tradisi Tidak Berarti Menolak Karismatik
Secara pribadi, seseorang dapat lebih menyukai kekayaan tradisi daripada spiritualitas karismatik. Ia mungkin merasa lebih dekat dengan liturgi yang hening, tata ibadat yang terstruktur, musik sakral, atau kekayaan teologi yang diwariskan sepanjang sejarah Gereja.
Sebaliknya, umat lain dapat menemukan pembaruan iman melalui doa spontan, pujian bersama, dan persekutuan komunitas karismatik.
Preferensi tersebut tidak dengan sendirinya menjadi persoalan. Yang perlu dijaga adalah agar pilihan pribadi tidak berubah menjadi klaim bahwa satu corak spiritualitas merupakan satu-satunya bentuk kekatolikan yang sah.
Gereja Katolik memiliki beragam tradisi liturgis, keluarga spiritual, dan karisma. Keberagaman itu tetap berada dalam satu kerangka iman, sakramen, ajaran Magisterium, dan persekutuan gerejawi.
Menghargai keberagaman bukan berarti menganggap semua ajaran atau praktik otomatis sama secara teologis, melainkan mengakui bahwa Roh Kudus mengaruniakan berbagai karisma bagi pembangunan Tubuh Mistik Kristus.
Demikian pula, menyukai tradisi tidak berarti harus merendahkan umat yang mengekspresikan iman secara karismatik. Tidak merasa cocok dengan suasana suatu komunitas juga tidak otomatis menjadi alasan untuk menilai kualitas iman orang-orang di dalamnya.
Preferensi spiritualitas adalah pilihan penghayatan iman, bukan ukuran tunggal kekatolikan.
Seseorang dapat memilih tradisi tanpa harus menjadikan tradisionalisme sebagai identitas yang merusak persatuan Gereja. Ia juga dapat menghargai gerakan karismatik tanpa harus mengikuti seluruh bentuk ekspresi spiritualitasnya.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kelompok mana yang paling unggul, melainkan apakah kehidupan rohani tersebut membawa umat bertumbuh dalam iman, kasih, pertobatan, dan kesetiaan kepada Kristus.
KHK Kanon 1752: Keselamatan Jiwa-Jiwa sebagai Hukum Tertinggi
Kitab Hukum Kanonik (KHK) memberikan prinsip fundamental untuk memahami tujuan seluruh hukum dan tata kehidupan Gereja.
Kanon 1752, yang menjadi penutup dari seluruh Kitab Hukum Kanonik 1983, menegaskan bahwa keselamatan jiwa-jiwa harus selalu menjadi hukum tertinggi dalam Gereja.
Dalam bahasa Latin, prinsip tersebut berbunyi:
...salus animarum in Ecclesia suprema semper lex esse debet.b(…keselamatan jiwa-jiwa dalam Gereja harus selalu menjadi hukum yang tertinggi.)
Kanon ini bukan pernyataan bahwa aturan liturgi atau perbedaan teologis tidak penting. Sebaliknya, kanon ini mengingatkan bahwa seluruh tata kehidupan, hukum, dan struktur Gereja harus dipahami dan diarahkan demi tujuan utamanya, yaitu keselamatan rohani manusia.
Dalam konteks perdebatan antara tradisionalis dan karismatik, prinsip ini menjadi cermin refleksi yang tajam.
Apabila perbedaan spiritualitas justru menghasilkan kesombongan rohani, perpecahan, dan kebiasaan merendahkan sesama saudara seiman, maka ada sesuatu yang keliru dalam cara perbedaan itu dihayati.
Kesetiaan pada tradisi tidak perlu dibuktikan dengan merendahkan kelompok karismatik. Demikian pula, semangat karismatik tidak perlu dibangun dengan menganggap liturgi tradisional sebagai hal yang ketinggalan zaman.
Gereja tidak kehilangan kekayaan tradisinya hanya karena mengakui keberadaan beragam karisma. Sebaliknya, keberagaman tersebut perlu dihayati dalam kesatuan iman dan persekutuan gerejawi (communio).
Karena itu, Ekaristi menjadi titik orientasi yang mendasar. Dalam perayaan Ekaristi, umat berkumpul bukan untuk menegaskan superioritas kelompok, melainkan untuk merayakan Misteri Paskah Kristus sesuai dengan tata liturgi yang ditetapkan Gereja.
Ekaristi Melampaui Identitas Kelompok
Tradisionalisme dan spiritualitas karismatik memiliki karakter, penekanan, dan bentuk penghayatan yang berbeda. Perbedaan itu tidak harus dihapus agar umat tetap hidup dalam kesatuan Gereja.
Namun, keduanya tidak boleh ditempatkan sebagai tujuan akhir kehidupan iman.
Seorang Katolik dapat mencintai liturgi tradisional, tetapi tetap perlu mengingat bahwa kecintaan pribadinya itu bukanlah dogma yang mengikat seluruh umat lain.
Seorang Katolik karismatik dapat menghayati doa dengan penuh semangat, tetapi semangat tersebut juga tidak menjadikannya “lebih kudus” daripada umat yang memiliki corak spiritualitas berbeda.
Pusatnya tetap Kristus.
Dalam konteks ini, Perayaan Ekaristi yang dirayakan secara sah (valid) dan teratur (licit) sesuai dengan ketentuan norma liturgi Gereja menjadi pokok yang sangat penting.
Kesetiaan pada norma liturgi bukan sekadar formalitas, melainkan wujud rasa hormat terhadap sakramen Gereja. Pada saat yang sama, bentuk liturgi dan spiritualitas tidak semestinya dijadikan alat untuk membangun “kasta” di antara umat Katolik.
Seseorang boleh memiliki pilihan pribadi. Ia boleh lebih menyukai tradisi dan tidak menemukan kedekatan emosional dengan ekspresi karismatik. Namun, ia harus ingat bahwa dirinya adalah bagian dari Tubuh Mistik Gereja yang jauh lebih luas daripada preferensi pribadinya.
Sebab, menjadi Katolik bukan hanya soal menemukan bentuk ibadat yang paling sesuai dengan selera spiritual seseorang, melainkan hidup dalam iman, sakramen, dan persekutuan (communio) Gereja.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang siapa yang lebih tinggi kehilangan relevansinya ketika Ekaristi kembali ditempatkan di pusat. Bukan kemenangan tradisionalisme atau karismatik yang menjadi tujuan, melainkan kesetiaan kepada Kristus dan keselamatan jiwa-jiwa.
Sebagaimana ditegaskan dalam KHK Kanon 1752, keselamatan jiwa-jiwa harus selalu menjadi hukum tertinggi.
Bukan superioritas kelompok. Bukan kemenangan preferensi spiritualitas. Melainkan Kristus, Ekaristi, dan keselamatan jiwa-jiwa.
Rujukan:
- Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, khususnya artikel 11 (Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani).
- Kitab Hukum Kanonik 1983, Kanon 1752 (Prinsip Salus Animarum sebagai hukum tertinggi Gereja).
- Katekismus Gereja Katolik (KGK), art. 1324–1327 (Ekaristi sebagai Sakramen Mahakudus dan Pusat Kehidupan Gereja).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan