JAKARTA — Ketua Umum Ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya sekaligus Dewan Kehormatan Serikat Buruh Nasional Indonesia (SBNI), H. Hercules Rozario Marshal, melayangkan peringatan keras terkait ancaman kebocoran anggaran pada program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyoroti banyaknya oknum pelaksana bermental “raja tega” di tingkat bawah yang berpotensi menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ajang bancakan korupsi.
Kritik menohok tersebut disampaikan H. Hercules dalam pidato orasinya pada acara Kongres sekaligus Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II SBNI di Jakarta.
Acara akbar kaum buruh ini turut dihadiri oleh deretan tokoh nasional, termasuk Menteri Lingkungan Hidup M. Jumhur Hidayat, Ketua Umum Partai Rakyat Indonesia (PRI) M. Nazaruddin, serta sejumlah tokoh pergerakan lainnya.
Di hadapan ratusan kader buruh, H. Hercules menegaskan bahwa dirinya adalah salah satu orang yang berjuang mati-matian dalam memenangkan Prabowo Subianto sebagai Presiden.
Secara prinsip, ia menilai program MBG sangatlah bagus dan berniat mulia untuk menolong gizi anak-anak dari masyarakat kecil. Namun, hal itu tidak membuatnya silau. H. Hercules secara tegas mengaku tidak pernah berminat untuk ikut mengelola atau mengambil keuntungan dari proyek MBG tersebut.
Sebagai pendukung setia, ia memilih menjaga jarak dan menolak terlibat dalam lingkaran bisnis proyek itu karena mengkhawatirkan mata rantai birokrasi di lapangan yang rentan memotong hak rakyat demi keuntungan pribadi.
H. Hercules kemudian membeberkan simulasi bagaimana dana anggaran makanan yang dialokasikan dari pusat rentan menyusut drastis akibat birokrasi yang tidak sehat saat diturunkan ke bawah.
“Kalau bisa negara kasih uang langsung (ke penerima). Nanti kalau lewat birokrasi, akan ditutup sana ditutup sini. Akhirnya uang yang (awalnya) lima belas ribu, dipotong sana potong sini, sampai ke bawah cuma sisa enam ribu atau tujuh ribu rupiah,” cetus H. Hercules.
Ia secara gamblang menegaskan ogah ikut-ikutan karena menolak keras kehilangan nurani dan menjadi bagian dari apa yang ia istilahkan sebagai “raja tega”.
“Karena kalau saya mau dapat uang dari program itu, saya harus jadi ‘raja tega’. Karena kalau tidak raja tega, saya tidak akan dapat uang,” sindirnya tajam terhadap potensi penyimpangan di tingkat pelaksana bawah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan