Jujur, saya datang dengan ekspektasi cemas. Tapi setelah berminggu-minggu berkeliling, bercengkerama dengan para diaspora Indonesia, dan menggali informasi langsung dari mereka yang menetap—saya sampai pada satu simpulan:

Tidak ada kepanikan di wajah mereka. Tidak ada kekhawatiran yang menjalar seperti yang kita baca di luar sana.

Mereka justru tersenyum, mengajak saya makan okonomiyaki di lorong sempit Nagoya, atau sekadar menemani commute pagi di stasiun Kanazawa. Lantas, apa yang membuat mereka tenang?

Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang
Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang

Rahasia Kecil di Balik Stabilitas

Hal kecil yang saya tangkap: para diaspora yang telah menetap tidak lagi merasa sebagai ‘orang luar’. Mereka telah berpartisipasi penuh—membayar pajak, mengikuti aturan lingkungan, belajar aisatsu (salam) hingga intonasi yang benar, bahkan menjadi relawan saat bencana lokal. Mereka memposisikan diri bukan sebagai beban, melainkan sebagai wajah lain dari negara ini.

Mereka mewakili Jepang yang inklusif tanpa kehilangan jati diri.

Di sinilah letak ilmunya. Kecintaan dan kebanggaan tidak harus diumbar di media sosial. Di Jepang, kecintaan itu diterjemahkan menjadi tanggung jawab harian: membuang sampah pada jadwalnya, tidak berisik di kereta, dan tetap bekerja keras meski kontrak hanya setahun.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.