JAKARTA – Bagi sebagian orang, Jepang adalah sekali seumur hidup. Tapi bagi saya, negeri Sakura ini seperti ‘pulang’ ke kelas kehidupan yang tak pernah usai memberi pelajaran. Dalam 10–15 tahun terakhir, saya sudah beberapa kali menginjakkan kaki di sini.

Namun, setiap perjalanan selalu menyisakan ilmu baru—tentang harmoni sosial, semangat yang tak padam, dan etos kerja yang terasa seperti denyut nadi kolektif.

Kali ini, saya memilih rute yang berbeda: menyusuri wilayah tengah Honshu, dari selatan di Nagoya, naik ke utara hingga Kanazawa, menyambangi kota-kota besar dan kecil.

Saya sengaja tak hanya duduk nyaman di Tokyo atau Osaka. Saya ingin melihat denyut sesungguhnya, di tempat di mana berita global bertemu dengan realitas jalanan.

Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang
Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang

Ketika Berita Bercerita Satu Sisi

Belakangan, media ramai memberitakan gelapnya langit Jepang. Ekonomi yang dikabarkan memburuk. Angka kelahiran yang merosot setiap tahun, disebut sebagai ‘bom waktu’ demografi. Lalu ada isu pekerja asing yang ‘mengganggu’ ketertiban dan berbenturan dengan budaya kesopanan lokal.

Jujur, saya datang dengan ekspektasi cemas. Tapi setelah berminggu-minggu berkeliling, bercengkerama dengan para diaspora Indonesia, dan menggali informasi langsung dari mereka yang menetap—saya sampai pada satu simpulan:

Tidak ada kepanikan di wajah mereka. Tidak ada kekhawatiran yang menjalar seperti yang kita baca di luar sana.

Mereka justru tersenyum, mengajak saya makan okonomiyaki di lorong sempit Nagoya, atau sekadar menemani commute pagi di stasiun Kanazawa. Lantas, apa yang membuat mereka tenang?

Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang
Stabil di Tengah Badai: Catatan Perjalanan Menyusuri Honshu, Menyaksikan Wajah Asli Jepang
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.