“Politik ini kan momentum, momentumnya pas kan ya saya tunjukkan sekarang,” ujar Jokowi.

Pernyataan tersebut penting karena memberikan penjelasan langsung mengenai waktu pemunculan simbol tersebut. Dengan demikian, pembacaan terhadap aksi Jokowi tidak perlu berangkat dari dugaan mengenai motif tersembunyi. Yang tersedia secara terbuka adalah pilihan waktu, tempat, simbol yang digunakan, serta pesan yang disampaikan.

Di sinilah KTA berubah menjadi simbol politik.

Dalam perspektif Murray Edelman melalui konsep symbolic uses of politics, politik tidak hanya berlangsung melalui kebijakan dan institusi, tetapi juga melalui simbol yang membentuk persepsi publik terhadap suatu peristiwa. KTA PSI dalam konteks ini tidak lagi sekadar kartu anggota. Ia menjadi penanda visual mengenai identitas politik Jokowi.

Kajian Wildan Rofii mengenai safari politik Jokowi juga menggunakan kerangka Murray Edelman dan dramaturgi politik untuk membaca bagaimana simbol, lokasi, serta penataan panggung dapat membentuk perhatian publik.

Dalam analisisnya mengenai safari politik Jokowi di Lampung, Rofii menyebut Jokowi sebagai politisi yang fasih menggunakan simbol dan membaca langkah strategis.

Kerangka tersebut membantu menjelaskan mengapa sebuah benda sederhana seperti KTA dapat memperoleh bobot komunikasi yang jauh lebih besar ketika ditempatkan dalam panggung politik.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.