NEW YORK — Indonesia menyerukan agar negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab memperkuat koordinasi untuk melindungi status quo historis dan hukum di Yerusalem, termasuk kompleks Masjid Al-Aqsa.
Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono dalam Joint Arab-Islamic Ministerial Meeting on Jerusalem yang berlangsung di sela-sela High-level Week Sidang Majelis Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Jumat (25/9/2026).
Dalam forum tersebut, Indonesia menyoroti kondisi di lapangan yang dinilai terus memburuk. Sugiono menyebut provokasi dan pelanggaran terhadap status quo di kompleks Masjid Al-Aqsa masih terjadi.
“Seruan masyarakat internasional sudah jelas. Namun, realitas di lapangan justru semakin menjauh dari apa yang berulang kali kita serukan. Kesucian situs-situs suci tidak dapat dilanggar tanpa konsekuensi,” kata Sugiono.
Indonesia menilai perkembangan di Yerusalem tidak dapat dipisahkan dari situasi di wilayah Palestina lainnya. Sugiono menyebut Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur sebagai satu kesatuan realitas politik dan teritorial.
Menurut dia, stabilitas di satu wilayah tidak akan tercapai apabila pelanggaran terus berlangsung di wilayah lainnya.
Selain persoalan status quo Yerusalem, Indonesia menyoroti rencana perluasan permukiman melalui Proyek E1.
Menurut posisi yang disampaikan Indonesia, proyek tersebut mengancam keberlangsungan wilayah Negara Palestina yang berdaulat serta prospek penyelesaian konflik melalui solusi dua negara.
Indonesia juga merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2334 dalam menyampaikan posisinya mengenai permukiman Israel di wilayah Palestina.
Menghadapi perkembangan tersebut, Sugiono mendorong OKI dan Liga Arab tidak berhenti pada seruan politik, tetapi memperkuat aksi bersama yang lebih terkoordinasi.
Indonesia juga mendorong perluasan kerja sama dengan mitra internasional untuk memperkuat akuntabilitas, menegakkan hukum internasional, serta mendukung upaya menuju perdamaian.
Dalam forum tersebut, Indonesia menekankan pentingnya perlindungan situs-situs suci di Yerusalem.
Salah satu langkah yang didorong adalah dukungan terhadap wakaf Islam dan Hashemite Custodianship Yordania atas situs-situs suci di Yerusalem.
Indonesia juga mendorong lebih banyak negara mengambil langkah terhadap produk yang berasal dari permukiman ilegal, dengan tetap mengacu pada hukum internasional dan kerangka hukum nasional masing-masing negara.
Langkah tersebut dipandang sebagai salah satu cara menerjemahkan komitmen politik internasional ke dalam tindakan yang lebih konkret.
Dukungan untuk Palestina
Selain isu Yerusalem, Indonesia mendorong dukungan berkelanjutan terhadap rekonstruksi Gaza, penguatan institusi Palestina, persatuan nasional Palestina, serta keberlanjutan peran UNRWA dalam memberikan layanan dasar kepada pengungsi Palestina.
Sugiono juga menyerukan pembentukan koalisi internasional yang lebih luas untuk mendukung terwujudnya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Pertemuan di New York tersebut merupakan tindak lanjut dari Konferensi Tingkat Menteri Luar Biasa OKI yang berlangsung di Jeddah, Arab Saudi, pada 27 Agustus 2026.
Rangkaian pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi negara-negara Arab dan Islam untuk membahas perlindungan Yerusalem dan situs-situs sucinya serta langkah-langkah untuk mendukung hak-hak rakyat Palestina.

