JAKARTA — Peringatan satu abad Hari Misi Sedunia menyoroti pergeseran peta rohaniwan global. Di tengah penyusutan jumlah imam di Eropa, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempertahankan ekosistem panggilan yang terhubung rapat dari keluarga, paroki, seminari, hingga jaringan misi lintas negara.
Pada 18 Oktober 2026, Gereja Katolik memperingati Hari Misi Sedunia ke-100. Tahun ini mengusung tema “One in Christ, United in Mission” (Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi), sebuah bingkai utama yang ditegaskan kembali oleh Paus Leo XIV untuk menandai satu abad perayaan yang pertama kali ditetapkan oleh Paus Pius XI pada 1926.
Pesan tersebut hadir ketika peta sosiologis rohaniwan Gereja Katolik dunia mengalami pergeseran mendasar. Di sejumlah negara Eropa, jumlah imam dan calon imam terus menyusut.
Di sisi lain, Asia dan Afrika menjadi wilayah dengan basis panggilan yang lebih kuat dan dinamis.
Prancis menjadi salah satu cermin nyata dari perubahan tersebut. Data statistik Vatikan menunjukkan jumlah imam di negara itu merosot tajam dari 38.876 pada 1980 menjadi 12.590 pada 2024.
Dalam periode yang sama, jumlah seminaris tingkat tinggi juga menurun dari 1.278 menjadi 1.075 orang.
Di tengah fenomena krisis tersebut, Pulau Flores di NTT menarik perhatian dunia internasional. Pulau berpenduduk sekitar dua juta jiwa dengan populasi Katolik lebih dari 80 persen ini memiliki jaringan pendidikan dan pembinaan calon imam yang kokoh dan multipintu.
Ekosistem tersebut mengakar kuat. Ada keluarga dan paroki sebagai lingkungan persemaian awal, seminari menengah sebagai kawah candradimuka remaja, seminari tinggi untuk pembentukan matang, keuskupan dan tarekat sebagai jalur perutusan, serta rumah-rumah formasi di luar Flores yang membuka jalan menuju pelayanan di berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar mengapa Flores memiliki banyak calon imam, melainkan bagaimana ekosistem panggilan itu mampu bertahan dan konsisten menghasilkan tenaga misioner ketika banyak wilayah lain di dunia justru kekurangan imam.
Dari Seminari Menengah ke Seminari Tinggi
Kekuatan Flores tidak hanya bertumpu pada institusi besar seperti Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero atau Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Di balik dua nama legendaris tersebut, terdapat lapisan pembentukan berjenjang yang terentang panjang.
Di berbagai wilayah Flores, seminari menengah menjadi ruang awal bagi remaja untuk menguji dan mengenali panggilan hidupnya.
Di Flores Timur terdapat Seminari Menengah San Dominggo Hokeng (berdiri 1950). Di Ngada berdiri Seminari Menengah Santo Yohanes Berchmans Todabelu Mataloko yang akar sejarahnya bermula dari Lela sejak 1929.
Sementara itu, di Manggarai Timur ada Seminari Pius XII Kisol (berdiri 1955) yang dikelola Keuskupan Ruteng, di Manggarai Barat berdiri Seminari Santo Yohanes Paulus II Labuan Bajo, serta di Kabupaten Sikka terdapat Seminari Menengah Santo Maria Bunda Segala Bangsa Maumere.
Nama-nama institusi tersebut bukan sekadar daftar bangunan sekolah. Keberadaannya menandakan bahwa proses pematangan karakter dan spiritualitas dimulai jauh sebelum seseorang melangkah ke jenjang perguruan tinggi.
Jaringan ini juga sangat fleksibel. Lulusan seminari menengah tidak diwajibkan mengalir ke satu jalur yang seragam.
Berdasarkan laporan Catholic News Agency (CNA) / National Catholic Register, sistem seminari menengah di Flores menampung sekitar 650 siswa tingkat SMP dan SMA.
Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menjelaskan bahwa setelah tamat, para siswa bebas memilih untuk melamar ke keuskupan sebagai calon imam projo atau bergabung dengan berbagai kongregasi religius.
Ledalero, Ritapiret, dan Dua Model Formasi Utama
Memasuki jenjang pendidikan tinggi, dua institusi utama di Kabupaten Sikka menjadi simpul terbesar formasi di Flores.
Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero di Maumere didirikan secara kanonik pada 20 Mei 1937 oleh Serikat Sabda Allah (SVD).
Sejak awal, lembaga ini dirancang khusus untuk mendidik calon imam dan biarawan misionaris ad gentes. Ledalero berkembang tidak hanya untuk SVD, melainkan juga menerima calon dari berbagai tarekat mitra dan menjadi pusat studi filsafat serta teologi yang terpandang di Indonesia.
CNA/National Catholic Register mencatat lebih dari 320 seminaris menjalani pembinaan di Ledalero pada 2025, dengan angkatan baru setelah masa novisiat konsisten mencapai sedikitnya 50 orang setiap tahun.
Data resmi Ledalero mencatat lebih dari 1.477 pastor misionaris SVD telah dihasilkan selama 75 tahun pertama sejarahnya, dengan ratusan alumni yang tersebar melayani di lebih dari 70 negara.
Pilar kedua adalah Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Berbeda dengan Ledalero yang merupakan rumah formasi tarekat religius, Ritapiret adalah seminari tinggi interdiosesan yang membina calon imam projo (diosesan) untuk keuskupan-keuskupan di wilayah Nusa Tenggara dan sekitarnya.
Laporan Associated Press pada 2024 mencatat Ritapiret telah menghasilkan 13 uskup, lebih dari 580 imam diosesan, dan puluhan diakon selama hampir tujuh dekade berdiri.
Dua institusi ini memperlihatkan bahwa Flores mengoperasikan dua jalur utama yang saling melengkapi. Jalur imamat diosesan untuk pelayanan akar rumput keuskupan, dan jalur imamat religius-misioner untuk pelayanan tarekat dan misi global.
Dari Paroki Flores hingga Tarekat di Luar Pulau
Namun, peta panggilan Flores jauh lebih dinamis dari sekadar dua pilar di Maumere tersebut. Perjumpaan pertama seorang pemuda Flores dengan cita-cita imamat sering kali bermula dari kehidupan paroki lokal.
Di sanalah mereka berinteraksi langsung dengan para pastor, biarawan, dan misionaris dari pelbagai kongregasi.
Kehadiran ragam tarekat di Flores membuka ruang perutusan yang meluas. Selain SVD, para anak muda Flores banyak yang memilih Ordo Fratrum Minorum (OFM/Fransiskan), Misionaris Claretian (CMF), Misionaris Keluarga Kudus (MSF), Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu (MSC/Misionaris Hati Kudus), Serikat Xaverian (SX), hingga kongregasi lainnya.
Karena setiap tarekat memiliki rumah pembinaan tersendiri, perjalanan seorang calon imam dari Flores tidak harus bermuara di Ledalero atau Ritapiret.
Banyak di antara mereka yang melanjutkan masa novisiat dan studi teologi ke Kupang, atau menyeberang ke rumah formasi di Pulau Jawa dan Sumatera.
Selain itu, jalur panggilan tidak bersifat eksklusif bagi lulusan seminari menengah. Tidak sedikit pemuda Flores yang menyelesaikan pendidikan di SMA umum, lalu memutuskan masuk ke rumah pembinaan tarekat setelah melalui proses refleksi pribadi.
Tidak Semua Menjadi Imam: Dinamika Tahbisan per Tahun
Di titik ini, fenomena Flores perlu dibaca secara kritis dan realistis. Jumlah pendaftar atau seminaris yang melimpah pada tingkat awal tidak dapat serta-merta diterjemahkan sebagai jumlah imam baru setiap tahunnya.
Proses formasi menuju imamat berlangsung sangat panjang dan ketat, memakan waktu antara 8 hingga 12 tahun.
Selama kurun waktu tersebut, para seminaris melewati proses pematangan spiritual, intelektual, serta discernment (reflkesi dan penyaringan pribadi).
Banyak calon yang dalam perjalanannya menyadari bahwa panggilannya berada di jalur awam, sehingga memilih untuk mengundurkan diri dan melanjutkan karya di sektor kemasyarakatan, profesi, maupun pemerintahan.
Statistik tahbisan juga berfluktuasi dari tahun ke tahun dan bervariasi antar-lembaga.
Sebagai contoh, dalam catatan internal SVD di Ledalero, jumlah imam baru yang ditahbiskan mencatat angka 12 imam pada 2020, 15 imam pada 2021, dan 19 imam pada 2023.
Pada perayaan tahbisan SVD di Ledalero pada 4 Oktober 2025, tercatat 13 diakon yang resmi ditahbiskan menjadi imam.
Angka-angka ini menegaskan dua hal penting. Pertama, tidak ada angka tunggal yang pasti setiap tahun karena jumlah tahbisan sangat bergantung pada angkatan yang menyelesaikan seluruh tahapan pembinaan. Kedua, angka tahbisan pada satu lembaga (seperti Ledalero) tidak mencerminkan total seluruh imam baru asal Flores, sebab calon-calon lain ditahbiskan di Ritapiret maupun di rumah-rumah formasi tarekat di luar Pulau Flores.
Kekuatan Flores, dengan demikian, bukan terletak pada kepastian bahwa semua seminaris akan ditahbiskan, melainkan pada keberlanjutan ekosistem kelembagaan yang mampu merawat proses pembinaan tersebut secara konsisten dari generasi ke generasi.
Mengapa Ekosistem Ini Mampu Bertahan?
Keberlanjutan ekosistem panggilan di Flores tidak bisa disederhanakan hanya karena faktor demografi mayoritas Katolik. Sistem ini bertahan karena adanya keterikatan erat antara tradisi keluarga, kultur paroki, dan institusi pendidikan.
Di dalam keluarga Katolik Flores, profesi rohaniwan dipandang sebagai sebuah dedikasi moral yang dihormati.
Kehadiran anggota keluarga yang menjadi imam atau biarawati menjadi inspirasi berantai bagi generasi muda di sekitarnya.
Meski demikian, tradisi keluarga hanya berfungsi membuka pintu awal; penyaringan kelembagaan yang ketatlah yang menentukan siapa yang bertahan hingga tahbisan.
Di tempat-tempat seperti Ledalero dan Ritapiret, para seminaris tidak hanya ditempa di dalam ruang kuliah. Mereka menjalani disiplin harian yang seimbang antara doa, studi akademik, kerja manual, kehidupan komunitas, dan keterlibatan pastoral di tengah masyarakat.
Pembentukan yang utuh inilah yang membuat lulusan formasi Flores—baik yang menjadi imam maupun yang kembali ke masyarakat sebagai awam—memiliki ketahanan mental dan intelektual yang kuat.
Misi Arus Balik: Dari Flores menuju Dunia
Konstruksi sosial dan kelembagaan yang matang ini pada akhirnya membawa Flores pada peran baru dalam peta Katolik global: daerah yang dahulu menjadi wilayah penerima misi, kini bertransformasi menjadi pengirim misionaris.
Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menegaskan realitas ini dengan menyatakan bahwa sebagian besar alumni dari seminari-seminari di Flores kini menjalankan tugas pelayanan di berbagai belahan dunia.
Dari 1.500-an imam SVD yang dibentuk di Ledalero, sekitar 500 di antaranya melayani di lebih dari 70 negara di benua Amerika, Afrika, Eropa, dan Pasifik.
Pada perayaan tahbisan imamat SVD di Ledalero pada 4 Oktober 2025, Mgr. Paulus Budi Kleden kembali mengingatkan para neomis bahwa Gereja di berbagai belahan dunia tengah menantikan kehadiran dan pelayanan mereka.
Pesan Hari Misi Sedunia ke-100 dari Paus Leo XIV memberikan konteks teologis yang tepat atas fenomena ini. Dalam pesan videonya pada 7 Oktober 2026, Paus mengingatkan bahwa tujuan misi adalah membangun kesadaran perutusan universal dan mendorong kesediaan melayani hingga ke ujung bumi.
Ketika gereja-gereja di Barat mengalami penyusutan rohaniwan, Flores menunjukkan bagaimana sebuah ekosistem lokal—yang dirawat selama satu abad melalui keluarga, paroki, seminari menengah, dan tarekat—mampu menjadi jawaban atas kebutuhan pelayanan Gereja global.
Dari pulau kecil di timur Indonesia ini, arus panggilan terus mengalir dan bergerak melintasi benua.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan