JAKARTA, RMTVNEWS.com — Unggahan lowongan kerja, pencari kerja yang menawarkan keterampilan, hingga perekrut yang mencari kandidat melalui percakapan terbuka mewarnai penggunaan Threads. Platform media sosial milik Meta itu menjadi salah satu ruang bagi pengguna untuk berbagi informasi pekerjaan dan membangun koneksi profesional.
Di Threads, informasi pekerjaan tidak selalu muncul dalam bentuk pengumuman resmi perusahaan.
Pengguna dapat membagikan informasi lowongan, meminta rekomendasi pekerjaan, memperkenalkan pengalaman profesional, atau menawarkan keahlian kepada orang lain.
Pengguna lain dapat menanggapi unggahan tersebut dengan memberikan informasi tambahan atau menghubungkan pencari kerja dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja.
Fenomena ini berlangsung di tengah penggunaan media sosial yang semakin beragam, termasuk untuk memperoleh informasi di luar kebutuhan komunikasi dan hiburan.
Instagram, LinkedIn, TikTok, dan platform lainnya juga digunakan untuk mengakses informasi pekerjaan, memperkenalkan kemampuan profesional, serta mengikuti perkembangan perusahaan.
Threads memiliki karakter interaksi yang berbeda dari portal rekrutmen konvensional. Jika portal pekerjaan umumnya menyediakan pencarian berdasarkan jabatan, lokasi, perusahaan, dan kualifikasi, Threads memungkinkan informasi lowongan muncul di tengah percakapan antarpengguna.
Instagram dan Threads: 2 Karakter Berbeda dalam Ekosistem Meta
Meskipun berada dalam ekosistem perusahaan yang sama, Instagram dan Threads menawarkan pola komunikasi yang berbeda. Perbedaan karakter ini secara langsung memengaruhi cara informasi pekerjaan disampaikan dan direspons oleh pengguna.
Instagram lebih mengandalkan konten visual seperti foto, video, Reels, dan Stories. Dalam ranah rekrutmen, perusahaan umumnya memanfaatkan fitur-fitur ini untuk mengunggah poster lowongan, memperkenalkan budaya kerja, hingga mengarahkan pelamar ke situs karier resmi.
Selain itu, pencari kerja juga dapat memanfaatkan pesan langsung (direct message) untuk menghubungi pihak perekrut secara personal.
Sementara itu, Threads lebih berorientasi pada percakapan berbasis teks, meski tetap mendukung lampiran foto, video, maupun tautan.
Di platform ini, informasi pekerjaan lebih sering muncul dalam bentuk diskusi terbuka—baik saat pengguna menyampaikan kebutuhan tenaga kerja, meminta rekomendasi, maupun membagikan pengalaman profesional mereka.
Perbedaan tersebut membuat penyampaian informasi lowongan di kedua platform memiliki pendekatan yang bertolak belakang. Di Instagram, lowongan kerja cenderung disajikan sebagai pengumuman visual yang terstruktur.
Sebaliknya, di Threads, informasi pekerjaan kerap berkembang secara dinamis di tengah percakapan, balasan komentar, dan unggahan lanjutan.
Kendati demikian, fungsi kedua platform ini tidak sepenuhnya terpisah. Instagram tetap dapat digunakan untuk berdiskusi dan membangun jaringan, sebagaimana Threads juga bisa dipakai untuk membagikan pengumuman visual.
Perbedaannya lebih terletak pada karakter interaksi utama yang paling menonjol di masing-masing platform.
Dari segi skala pengguna, Meta mencatat bahwa Threads telah mencapai 500 juta pengguna aktif bulanan secara global pada 16 Juni 2026.
Angka tersebut memang mencerminkan masifnya basis pengguna Threads, meski tidak merinci seberapa banyak dari mereka yang aktif mencari pekerjaan.
Di tingkat lokal, laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat potensi jangkauan iklan Instagram di Indonesia mencapai 108 juta pada akhir 2025.
Sebagai perbandingan, estimasi jangkauan iklan Threads pada periode yang sama berada di angka 8,15 juta akun.
Namun, kedua angka tersebut perlu dibaca secara cermat. Data jangkauan iklan berasal dari perangkat perencanaan Meta, sehingga tidak dapat disamakan dengan jumlah pengguna aktif bulanan (Monthly Active Users) maupun jumlah individu unik.
Data tersebut juga tidak mengukur secara khusus berapa banyak pengguna yang memanfaatkan platform untuk mencari kerja, mempublikasikan lowongan, atau berhasil direkrut.
Meski tidak secara langsung mencatat angka rekrutmen, penelitian mengenai penggunaan media sosial menunjukkan bahwa platform digital kini berfungsi lebih dari sekadar papan pengumuman lowongan.
Media sosial telah bertransformasi menjadi ruang strategis bagi pencari kerja untuk membangun jaringan, menampilkan kapabilitas, hingga menarik perhatian perekrut.
Dalam penelitian Matti Laukkarinen berjudul Social Media as a Place to See and Be Seen: Exploring Factors Affecting Job Attainment via Social Media, yang diterbitkan dalam jurnal The Information Society pada 2023, penggunaan media sosial dalam proses pencarian kerja ditelaah melalui konteks pengguna di Finlandia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan