Sebagai langkah konkret, pada semester I 2026 PLN menyiapkan 21 proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), termasuk yang terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS), untuk segera dieksekusi. Program ini akan diperluas dengan pengembangan PLTS dan BESS dalam skala besar guna menekan penggunaan BBM impor.
Selain itu, PLN juga akan meluncurkan program Green Integrated Gigawatt Acceleration mulai 2026. Program ini ditujukan untuk memperkuat sistem kelistrikan, meningkatkan porsi EBT, sekaligus menurunkan biaya pokok produksi (BPP) listrik.
“Program untuk meningkatkan energy security ini ternyata juga mengakselerasi green energy dan juga dalam rangka menurunkan biaya pokok produksi,” kata Darmawan.
PLN juga merancang pengurangan penggunaan BBM pada 741 lokasi pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dengan total sekitar 2.139 mesin. Upaya ini dilakukan dengan memanfaatkan potensi energi lokal, seperti mikrohidro, serta pembangunan PLTS yang dilengkapi BESS di wilayah yang tidak memiliki sumber energi air.
“Bahwa penggunaan energi yang masih berbasis pada impor dan energi mahal yaitu BBM harus segera kami kurangi dalam jangka waktu yang pendek, menengah,” ujarnya.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, PLN berharap dapat meningkatkan ketahanan energi nasional, menekan biaya energi, serta mempercepat transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan. Selain itu, penguatan bauran energi hijau juga diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif di sektor energi ke depan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan