JAKARTA – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax mulai memicu perubahan perilaku konsumen. Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jakarta Barat dipadati antrean kendaraan roda dua yang ingin mengisi Pertalite pada Rabu (10/6/2026).
Pantauan di sejumlah SPBU menunjukkan antrean panjang terjadi khususnya pada jalur pengisian BBM bersubsidi Pertalite, sementara dispenser BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo terlihat jauh lebih lengang.
Salah satu titik yang mengalami lonjakan antrean adalah SPBU di Jalan Jakarta Outer Ring Road (JORR), Cengkareng. Puluhan sepeda motor tampak mengular hingga mendekati gerbang masuk SPBU demi mendapatkan Pertalite.
Mayoritas antrean diisi oleh pengemudi ojek online (ojol), kurir logistik, pelajar, hingga ibu rumah tangga yang berusaha menekan pengeluaran harian setelah harga Pertamax melonjak signifikan.
Di lokasi tersebut, antrean pengisian Pertalite mencapai sekitar 20 kendaraan roda dua. Sebaliknya, antrean Pertamax hanya diisi dua hingga tiga kendaraan.
Kondisi serupa juga terjadi di SPBU Jalan Raya Duri Kosambi, Cengkareng. Belasan pengendara tampak rela menunggu di bawah terik matahari demi mendapatkan BBM subsidi.
Warga Mulai Beralih dari Pertamax ke Pertalite
Dani (28), warga Cengkareng Timur, mengaku akan mengubah kebiasaan penggunaan bahan bakarnya setelah kenaikan harga Pertamax.
Pekerja gerai ayam goreng tersebut sebelumnya rutin menggunakan Pertamax. Namun kini ia memilih beralih ke Pertalite demi menghemat pengeluaran bulanan.
“Udah ketebak, pasti bakal antre panjang lah Pertalite. Siap-siap aja, kalau ngisi bensin, harus luangin waktu dulu, jangan mepet,” ujar Dani.
Menurutnya, meskipun harus menghabiskan waktu lebih lama untuk mengantre, penggunaan Pertalite dinilai lebih masuk akal di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat.
Ojol Terpaksa Beli Pertamax Demi Kejar Target
Sementara itu, Afrizal (26), seorang pengemudi ojek online, mengaku sempat membeli Pertamax senilai Rp20 ribu karena tidak memiliki waktu untuk mengantre Pertalite.
Ia mengatakan langkah tersebut hanya bersifat darurat agar tetap bisa menyelesaikan pesanan pelanggan tepat waktu.
“Terpaksa geser ke Pertamax karena antrean Pertalite panjang banget, sementara saya lagi ngejar orderan. Ini cuma buat nyambung jalan sekadarnya. Nanti malam, pas sudah sepi, baru antre Pertalite lagi untuk isi penuh,” katanya.
Afrizal juga mengeluhkan daya beli terhadap BBM yang semakin menurun. Jika sebelumnya Rp20 ribu dapat memperoleh sekitar 1,5 liter Pertamax, kini jumlah yang didapat jauh lebih sedikit akibat kenaikan harga.
Muncul Kekhawatiran Kelangkaan Pertalite
Di sisi lain, pengemudi ojol bernama Syarif (42) mengaku khawatir perpindahan besar-besaran pengguna Pertamax ke Pertalite dapat memicu kelangkaan BBM subsidi di lapangan.
Menurutnya, meningkatnya permintaan terhadap Pertalite berpotensi menimbulkan antrean yang lebih panjang dan menyulitkan masyarakat yang sejak awal memang mengandalkan BBM subsidi.
“Kalau saya memang dari awal pakai Pertalite, tapi takutnya nanti malah langka karena semua orang pindah ke subsidi. Kondisi ekonomi sekarang makin berat, belanja dapur mahal, makan di warteg naik, ditambah beban bensin ini,” ungkapnya.
Untuk menghemat pengeluaran, Syarif mengaku mulai menunda jadwal servis rutin sepeda motornya.
“Biaya servis dan oli impor juga ikut naik. Paling diakali dengan memundurkan jadwal servis, yang biasanya sebulan sekali, jadi dua bulan sekali,” ujarnya.
Harga Pertamax Naik Hampir Rp4.000 per Liter
Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga resmi menyesuaikan harga BBM non-subsidi mulai 10 Juni 2026.
Di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax (RON 92) naik sebesar Rp3.950 per liter dari sebelumnya Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Adapun harga BBM lainnya tetap, yaitu Pertalite Rp10.000 per liter, Biosolar Rp6.800 per liter, Pertamax Turbo Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.
Hingga Rabu siang, antrean di sejumlah SPBU Jakarta Barat masih terpantau fluktuatif, namun cenderung meningkat pada jam-jam sibuk seiring bertambahnya masyarakat yang memilih beralih ke BBM subsidi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan