Namun terdapat persoalan yang berbeda di ruang publik: ketika pemerintah menghadapi kritik yang bersumber dari persoalan implementasi kebijakan, respons mengenai “antek asing” tidak dengan sendirinya menjawab substansi kritik tersebut.
MBG tetap perlu dinilai berdasarkan keamanan pangan, distribusi, tata kelola dan efektivitasnya.
KDMP tetap perlu dinilai berdasarkan kesiapan infrastruktur, tata kelola koperasi, pembiayaan dan manfaat ekonominya.
Kinerja ekonomi tetap perlu dilihat tidak hanya dari pertumbuhan PDB, tetapi juga indikator daya beli, harga dan kondisi rumah tangga.
Dan tingkat kepercayaan publik tetap perlu dibaca melalui data survei dengan memperhatikan perbedaan metodologinya.
Pertarungan Narasi dan Kinerja
Pada titik ini, pertanyaan mengapa Prabowo kerap menyebut “antek asing” memiliki jawaban yang lebih luas daripada sekadar persoalan buzzer.
Narasi tersebut merupakan bagian dari cara Prabowo membingkai isu politik melalui tema kedaulatan, kemandirian dan ancaman terhadap kepentingan nasional.
Ketika pemerintah menghadapi kritik, frame tersebut dapat digunakan untuk membedakan antara informasi yang dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah dan agenda pemerintah yang diklaim sebagai kepentingan nasional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan