JAKARTA – Narasi “antek asing” kembali digunakan Presiden Prabowo Subianto ketika pemerintah menghadapi kritik terhadap sejumlah program prioritas dan dinamika tingkat kepuasan publik.
Dalam perspektif komunikasi politik, istilah tersebut menempatkan kritik terhadap pemerintah dalam kerangka yang lebih besar, bukan sekadar perbedaan pendapat mengenai kebijakan, melainkan bagian dari pertarungan antara kepentingan nasional dan kekuatan yang dianggap ingin melemahkan Indonesia.
Kerangka itu kembali terlihat ketika Prabowo berbicara di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan para santri, Prabowo meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi negatif tentang pemerintah di media sosial.
“Jangan percaya mereka-mereka yang saya katakan antek-antek asing. Jangan percaya mereka. Mereka punya uang, mereka bisa bayar buzzer. Mereka bisa main di media sosial,” ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan ada kekuatan yang tidak ingin Indonesia menjadi negara kuat dan mandiri.
Pernyataan tersebut penting bukan hanya karena istilah “antek asing” kembali muncul, tetapi karena konteksnya bertepatan dengan meningkatnya sorotan terhadap kinerja pemerintah.
Di satu sisi, pemerintah masih memiliki sejumlah indikator positif: ekonomi tumbuh dan program prioritas tetap memperoleh dukungan publik. Di sisi lain, terdapat kritik terhadap implementasi MBG dan KDMP serta hasil beberapa survei yang menunjukkan penurunan kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan