JAKARTA – Polemik yang menyeret nama Ahmad Bahar dan Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu Jaya, Hercules Rosario Marshal, kembali memanas.

Kabid Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual, meminta publik melihat persoalan secara jernih dan tidak mudah terpengaruh narasi yang dinilai menggiring opini seolah terjadi penyanderaan maupun penculikan terhadap putri Ahmad Bahar.

Menurut Marcel Gual, saat didatangkan ke kantor GRIB Jaya beberapa hari lalu, putri Ahmad Bahar, Ilma Sani, disebut mengakui bahwa handphone miliknya memang sering digunakan oleh ayahnya.

Berdasarkan temuan pihak GRIB Jaya, perangkat tersebut diduga dipakai untuk mengirim pesan, doxing, hingga video provokasi ke nomor pribadi istri Hercules.

“Ada fakta hukum yang tidak bisa dibantah, yaitu handphone milik anak Ahmad Bahar itu dipakai untuk mengirimkan video provokasi, doxing, dan ancaman langsung ke nomor pribadi istrinya Pak Hercules. Karena sudah dilaporkan, biarkan kepolisian menyelidiki ini,” kata Marcel dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

“Dan itu juga diakui Ahmad Bahar dan anaknya saat pertama kali membuat video klarifikasi bahwa nomor mereka dipakai untuk kirim pesan ke WA-nya istri Pak Hercules,” imbuhnya.

Marcel menilai fakta penggunaan handphone tersebut penting untuk terus diungkap agar masyarakat mengetahui duduk perkara sebenarnya dan tidak langsung membentuk opini negatif terhadap H. Hercules maupun GRIB Jaya.

“Kalau pihak mereka terus memutarbalikkan fakta dengan narasi sandera atau penculikan, itu jelas sangat mengada-ada dan tidak masuk akal. Padahal mereka sendiri sudah mengakui jika nomor mereka dipakai untuk doxing ke istrinya Pak Hercules,” kata dia.

“Publik kan tahu betul siapa Pak Hercules. Beliau itu figur yang sangat sosial, humanis, dan selama ini dikenal sangat dekat serta menyayangi anak-anak yatim piatu. Karakter beliau jauh sekali dari tuduhan keji seperti itu,” imbuh Marcel Gual.

Ia juga membantah keras adanya tuduhan penyanderaan maupun penculikan. Menurut Marcel, isu tersebut sengaja dimainkan untuk membangun simpati publik dan membentuk narasi seolah pihak tertentu menjadi korban.

“Fakta sebenarnya di lapangan, Pak Hercules itu justru menasihati anak Ahmad Bahar secara baik-baik, layaknya orang tua kepada anaknya. Beliau memberikan edukasi dan pandangan agar anak tersebut paham duduk perkaranya, sekaligus meminta agar ayahnya bisa bersikap gentleman dan bertanggung jawab,” lanjutnya.

Marcel meminta masyarakat untuk melihat persoalan secara objektif dan tidak mudah terpengaruh opini liar yang berkembang di media sosial. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut sudah masuk ranah hukum sehingga seluruh pihak sebaiknya menghormati proses penyelidikan yang berjalan.

“Nah, sekarang kita harus jernih melihat apa yang sebenarnya memicu persoalan ini. Jangan diputarbalikkan seolah-olah mereka korbannya,” katanya.

Pihak DPP GRIB Jaya menambahkan bahwa tindakan pengiriman pesan, doxing, dan video provokasi tersebut dinilai telah menyerang ranah domestik dan mengganggu ketenangan keluarga. Karena itu, masyarakat diminta menunggu proses hukum berjalan dan tidak mudah terpengaruh narasi playing victim yang dinilai menyesatkan.

“Jadi, janganlah mereka sekarang sengaja menggiring opini liar dan playing victim untuk mencari simpati publik, padahal rekam jejak digitalnya jelas menunjukkan siapa yang memulai teror ini,” tutup Marcel Gual.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.