Pada 28 September 2026, Pesuruhjaya Polis Sabah Datuk Jauteh Dikun mengatakan polisi akan menyarankan pemerintah negara bagian menunda konser apabila penyelenggara mengajukan permohonan resmi.
Polisi Sabah telah menerima dua laporan terkait rencana konser tersebut. Jauteh juga menyebut adanya reaksi masyarakat serta sensitivitas yang berkaitan dengan sikap Houghton terhadap Israel.
Menurut Jauteh, Houghton pernah mengunggah pernyataan dukungan terhadap Israel di media sosial pada 8 Oktober 2023.
Persoalan perizinan turut menjadi perhatian. Saat itu, penyelenggara disebut belum mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah Sabah meskipun konser telah dipromosikan kepada publik.
Sikap terhadap Israel
Kontroversi tersebut kemudian tidak dapat dilepaskan dari posisi Houghton terhadap Israel.
Dalam konteks konflik Israel-Palestina, dukungan terbuka terhadap Israel menjadi isu sensitif di sejumlah negara. Pemerintah Indonesia juga menyoroti persoalan serupa ketika menjelaskan alasan pelarangan konser Houghton.
Namun, Israel Houghton merupakan warga negara Amerika Serikat dan bukan pejabat atau perwakilan pemerintah Israel. Nama “Israel” merupakan bagian dari nama pribadinya.
Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa larangan bukan ditujukan terhadap musik gospel atau kegiatan keagamaan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan