JAKARTA — Shell memasuki bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Indonesia pada 2005. Dua dekade kemudian, perusahaan energi asal Inggris tersebut memutuskan mengalihkan bisnis SPBU kepada PT Isla Energy Indonesia, sementara bisnis pelumasnya tetap dipertahankan di Indonesia.

Pengalihan usaha itu dijadwalkan berlaku efektif pada 30 Oktober 2026 setelah seluruh proses transisi selesai. Isla Energy merupakan anak usaha Sefas Group yang akan mengelola jaringan SPBU Shell di Indonesia.

google.com, pub-8856105476003589, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Perubahan tersebut menandai babak baru bagi bisnis ritel bahan bakar Shell di Indonesia. Namun, pengalihan kepemilikan tidak serta-merta menghilangkan merek Shell dari pasar domestik.

Berdasarkan pengumuman perusahaan, merek Shell tetap digunakan melalui perjanjian lisensi, sedangkan pasokan bahan bakar tetap berasal dari Shell.

Shell Memulai Bisnis SPBU pada 2005

Shell membuka SPBU pertamanya di Indonesia pada 1 November 2005 di Lippo Karawaci, Tangerang, Banten. Kehadiran tersebut berlangsung setelah perubahan regulasi sektor minyak dan gas bumi membuka ruang persaingan yang lebih luas bagi pelaku usaha di sektor hilir migas.

Shell kemudian membuka SPBU di Jalan S. Parman, Slipi, Jakarta, pada 1 Maret 2006. Perusahaan menjadi salah satu pemain asing yang memasuki bisnis penjualan bahan bakar langsung kepada konsumen di Indonesia.

Dalam perkembangannya, jaringan SPBU Shell meluas ke sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatra Utara.

Perusahaan juga mengembangkan bisnis penyimpanan dan distribusi bahan bakar untuk mendukung kegiatan operasionalnya.

Menurut data yang disampaikan Shell pada Mei 2025, perusahaan memiliki sekitar 200 lokasi SPBU di Indonesia. Lebih dari 160 lokasi di antaranya dimiliki perusahaan, selain terminal bahan bakar di Gresik, Jawa Timur.

Sempat Muncul Isu Penutupan SPBU

Perjalanan bisnis Shell di Indonesia tidak selalu berlangsung tanpa hambatan. Pada November 2024, muncul kabar mengenai rencana penutupan seluruh SPBU Shell di Indonesia.

Saat itu, Shell Indonesia membantah kabar tersebut. Mengutip laporan sejumlah media, perusahaan menyatakan informasi mengenai rencana penutupan seluruh SPBU tidak benar dan tidak memberikan komentar lebih lanjut mengenai spekulasi yang beredar di pasar.

Pada periode yang sama, Shell tetap menjalankan bisnis SPBU sekaligus mengembangkan lini usaha lainnya di Indonesia. Perusahaan juga memiliki kegiatan produksi dan distribusi pelumas yang menjadi bagian penting dari portofolio bisnisnya.

Dinamika berikutnya terjadi pada 2025, ketika Shell mengumumkan kesepakatan pengalihan kepemilikan bisnis SPBU di Indonesia. Keputusan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengubah komposisi portofolio bisnisnya.

Shell Umumkan Pengalihan Bisnis pada 2025

Pada 23 Mei 2025, Shell Indonesia mengumumkan telah menyetujui pengalihan kepemilikan bisnis SPBU kepada perusahaan patungan baru yang direncanakan dibentuk oleh Citadel Pacific Limited dan Sefas Group.

Transaksi itu mencakup jaringan SPBU Shell beserta kegiatan pasokan dan distribusi bahan bakar. Terminal bahan bakar di Gresik juga termasuk dalam cakupan bisnis yang diumumkan untuk dialihkan.

Shell menyatakan pengalihan tersebut tidak mencakup bisnis pelumasnya di Indonesia. Perusahaan tetap menjalankan bisnis pelumas, termasuk mengoperasikan pabrik pelumas dengan kapasitas produksi hingga 300 juta liter per tahun.

Dalam pengumuman resminya, Shell juga memastikan mereknya akan tetap hadir di Indonesia melalui perjanjian lisensi setelah transaksi selesai. Pasokan produk bahan bakar tetap dilakukan oleh Shell.

Perusahaan menyebut Indonesia masih menjadi pasar pertumbuhan penting bagi bisnis pelumasnya. Karena itu, pengalihan bisnis SPBU tidak berarti Shell menghentikan seluruh kegiatan usahanya di Indonesia.

Sefas Group Masuk melalui Isla Energy

Pada 2026, proses pengalihan bisnis SPBU Shell memasuki tahap berikutnya. Sefas Group menyampaikan rencana mengambil alih 100% saham PT Isla Energy Indonesia, perusahaan yang menjadi pengelola jaringan SPBU Shell di Indonesia.

Berdasarkan pengumuman yang diberitakan Bisnis pada 26 September 2026, pengambilalihan tersebut dilakukan melalui PT Global CSE Energitama dengan kepemilikan 99,99% saham dan Ricky Roesli sebesar 0,01%.

Sefas Group bukan pemain baru dalam industri energi. Grup usaha tersebut telah beroperasi sejak 1997 dan dikenal sebagai distributor pelumas Shell di Indonesia.

Pengambilalihan Isla Energy memperluas keterlibatan grup itu dari distribusi pelumas ke bisnis ritel bahan bakar.

Pada 9 Oktober 2026, Shell Indonesia mengonfirmasi pengalihan bisnis SPBU kepada Isla Energy sebagai bagian dari transisi kepemilikan. Perubahan tersebut dijadwalkan berlaku efektif pada 30 Oktober 2026 setelah proses pengalihan selesai.

Dengan demikian, terdapat dua tahapan yang perlu dibedakan, yakni pengalihan bisnis SPBU dari Shell kepada Isla Energy dan pengambilalihan saham Isla Energy oleh Sefas Group.

Keduanya merupakan bagian dari perubahan struktur kepemilikan bisnis SPBU Shell di Indonesia.

Merek Shell Tetap Digunakan

Meskipun kepemilikan dan pengelolaan bisnis SPBU beralih, Shell menyatakan mereknya tetap digunakan di Indonesia melalui perjanjian lisensi.

Pasokan bahan bakar juga tetap dilakukan oleh Shell. Skema tersebut memungkinkan bisnis SPBU beroperasi di bawah pengelola baru tanpa harus menghilangkan merek yang telah dikenal konsumen.

Namun, bisnis SPBU dan bisnis pelumas tetap menjadi dua lini usaha berbeda. Shell mempertahankan bisnis pelumasnya, termasuk fasilitas produksi dan pengembangan produk pelumas di Indonesia.

Karena itu, pengalihan bisnis SPBU tidak dapat diartikan sebagai keluarnya Shell sepenuhnya dari pasar Indonesia. Perubahan tersebut terutama menyangkut kepemilikan dan pengelolaan jaringan penjualan bahan bakar kepada konsumen.

Perubahan Pengelolaan di Tengah Persoalan Pasokan BBM

Peralihan kepemilikan berlangsung ketika jaringan SPBU Shell menghadapi persoalan ketersediaan bahan bakar. Pada Oktober 2026, sejumlah produk BBM Shell dilaporkan masih mengalami keterbatasan pasokan.

DetikOto melaporkan pada 8 Oktober 2026 bahwa dari empat jenis BBM yang ditawarkan Shell, yakni Shell Super, Shell V-Power, Shell V-Power Nitro+, dan Shell V-Power Diesel, hanya V-Power Diesel yang tersedia dalam jumlah terbatas di SPBU tertentu.

Pada akhir Januari 2026, Shell menyatakan masih berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM untuk tahun tersebut.

Persoalan pasokan itu merupakan dinamika operasional yang terjadi menjelang transisi pengelolaan. Namun, informasi tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa keterbatasan pasokan menjadi penyebab keputusan Shell mengalihkan bisnis SPBU.

Dalam pengumuman pada Mei 2025, Shell telah menyebut transaksi tersebut sebagai bagian dari strategi transformasi portofolio bisnis.

Dengan jadwal pengalihan yang ditetapkan pada 30 Oktober 2026, Isla Energy akan memasuki babak baru sebagai pengelola bisnis SPBU Shell di Indonesia. Sementara itu, Shell tetap mempertahankan kehadirannya melalui merek, pasokan bahan bakar, dan bisnis pelumas.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.