Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global. Kondisi tersebut membuat investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman.
Selain itu, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan yang disebut memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok. Pemerintah AS juga mengumumkan rencana meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) guna meredam gejolak pasar minyak.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat yang dinilai akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
“Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed,” kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, pelemahan rupiah turut dipicu keraguan pasar terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen, Ibrahim menilai capaian tersebut dipengaruhi efek basis rendah atau base effect.
“Angka 5,61% terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basisi,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan