Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup menguat 21 poin atau 0,12 persen ke level Rp17.168 per dolar AS pada perdagangan Senin, dari posisi sebelumnya Rp17.189 per dolar AS.
Analis Indonesia Commodity & Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menyebut penguatan ini dipengaruhi faktor stabilisasi jangka pendek di tengah tekanan sentimen global dan domestik.
“Penguatan rupiah ke Rp17.168 terjadi di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih cenderung memberikan tekanan, namun diimbangi oleh faktor stabilisasi jangka pendek,” ujarnya di Jakarta, Senin (20/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan tetap fokus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan suku bunga dan intervensi pasar valas.
Selain itu, aksi ambil untung terhadap dolar AS oleh investor domestik turut menopang penguatan rupiah secara teknikal.
Meski demikian, tekanan eksternal masih membayangi, terutama dari penguatan dolar AS yang didorong meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketegangan geopolitik global.
Ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi serta kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor yang berpotensi menekan rupiah melalui risiko inflasi impor.
Sementara itu, kurs referensi JISDOR yang dirilis Bank Indonesia turut menguat ke Rp17.176 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.189 per dolar AS.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan