Empat bidang tersebut meliputi peningkatan kapasitas Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) beserta dukungan logistik, perluasan latihan bersama, pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan dan Transfer of Technology (ToT), serta pertukaran informasi strategis.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI menyebut empat lini tersebut sebagai bagian dari upaya menurunkan konsensus para pemimpin kedua negara ke tingkat operasional.
Dalam pertemuan tersebut, Zhang Shengmin mengatakan kerja sama keamanan merupakan salah satu wujud penting dari tingginya kepercayaan strategis antara kedua negara.
“Kedua angkatan bersenjata harus melaksanakan konsensus penting kedua kepala negara, memperkuat komunikasi strategis, meningkatkan pertukaran dan interaksi di berbagai tingkatan, memperluas kerja sama nyata di berbagai bidang, serta meningkatkan hubungan kedua angkatan bersenjata secara menyeluruh,” kata Zhang.
Pernyataan Zhang tersebut juga dikutip China Radio International (CRI) dalam pemberitaan mengenai pertemuannya dengan Sjafrie.
Sjafrie kemudian menegaskan posisi Indonesia dalam hubungan pertahanan dengan China tetap berada dalam kerangka politik luar negeri bebas aktif.
“Selain itu kami mendorong pertukaran dan kerja sama nyata kedua pihak agar membuahkan lebih banyak hasil dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kedua negara beserta rakyatnya,” kata Sjafrie.
Dari Forum 2+2 hingga latihan militer
Arah kerja sama tersebut sebelumnya telah dibahas dalam Pertemuan 2+2 ke-2 Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Indonesia-China di Jakarta pada 21 Agustus 2026.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan