Syaifudin melihat, Jokowi berbicara mengenai potensi PSI menjadi partai besar, sedangkan Grace menekankan posisi faktual PSI yang belum pernah memperoleh kursi di DPR RI.
Syaifuddin mengatakan perbedaan nada tersebut perlu dilihat dalam konteks komunikasi politik PSI dan posisinya dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Jokowi, kata dia, dapat menggunakan narasi tentang potensi menjadi partai besar untuk membangun kepercayaan diri kader dan menunjukkan target politik PSI. Sementara Grace menggunakan penekanan bahwa PSI masih kecil untuk menjaga posisi partai berdasarkan kondisi elektoralnya saat ini.
“Pernyataan bahwa PSI masih partai kecil dapat menjadi bentuk komunikasi politik yang lebih moderat. PSI perlu membangun kekuatan elektoral, tetapi pada saat yang sama harus memperhitungkan posisinya dalam konfigurasi pemerintahan,” kata Syaifuddin saat dihubungi RMTV News di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, posisi PSI sebagai bagian dari pemerintahan Prabowo membuat komunikasi politik partai tidak hanya diarahkan kepada kader dan calon pemilih, tetapi juga kepada mitra politik dalam pemerintahan.
“Karena PSI berada dalam pemerintahan, bahasa politik yang digunakan juga perlu menjaga relasi dengan kekuatan politik lain. Pernyataan bahwa PSI masih partai kecil dapat dibaca sebagai upaya menjaga positioning tersebut,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan