Menurut Marcel Gual, selama status formal Jokowi belum terbuka, pengaruh politiknya terhadap PSI sudah dapat terlihat melalui komunikasi dengan kader, arahan mengenai organisasi, serta pembicaraan mengenai target politik menuju 2029.

“Jokowi Effect selama ini bekerja terutama sebagai pengaruh personal. Ketika pengaruh itu kemudian ditempatkan secara formal di dalam struktur PSI, pertanyaannya berubah: apakah pengaruh seorang figur dapat dikonversi menjadi kekuatan institusional partai?” ujar Marcel dalam keterangannya, Minggu (27/9/2026).

Menurut dia, hal tersebut berbeda dengan sekadar menempatkan popularitas Jokowi sebagai modal elektoral PSI.

“Popularitas figur tidak otomatis menjadi suara partai. Pelajaran Pemilu 2024 menunjukkan adanya jarak antara kekuatan figur dan kemampuan partai mengonversinya menjadi suara. Karena itu, yang menarik sekarang bukan hanya seberapa besar Jokowi Effect, tetapi bagaimana PSI mengubahnya menjadi organisasi, jaringan, kaderisasi, dan basis politik,” katanya.

PSI sebelumnya memperoleh sekitar 2,8 persen suara nasional pada Pemilu 2024 dan belum mencapai ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

Sementara itu, dalam survei Poltracking Indonesia periode 14–20 Agustus 2026, elektabilitas Gerindra tercatat 23,2 persen, sedangkan PSI 2,3 persen.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.