JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertemu empat mata dengan Presiden Republik Arab Mesir Abdel Fattah El-Sisi di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (11/10/2026). Pertemuan ini berlangsung di tengah upaya kedua negara memperluas kerja sama ekonomi sekaligus memperkuat koordinasi diplomatik mengenai Palestina dan perkembangan geopolitik Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir mengatakan pertemuan kedua kepala negara akan dilanjutkan dengan pertemuan bilateral dan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama.

“Bapak Presiden akan menerima Presiden Mesir di Istana, dan akan ada serangkaian kegiatan, mulai dari pertemuan empat mata, pertemuan bilateral, dan penandatanganan nota kesepahaman terkait dengan masalah visa, kerja sama statistik, perikanan, dan juga rencana aksi untuk meningkatkan hubungan kerja sama strategis antara Indonesia dan Mesir,” kata Arrmanatha, Minggu (11/10/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Arrmanatha, yang akrab disapa Tata, setelah menghadiri penyambutan kedatangan El-Sisi di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).

Kunjungan kenegaraan El-Sisi pada 10–11 Oktober 2026 merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia sejak 2015.

Menurut Arrmanatha, kunjungan tersebut sekaligus menjadi kunjungan balasan setelah Prabowo melakukan lawatan ke Mesir pada 2024 dan 2025.

Kemitraan Strategis Sejak 2025

Hubungan Indonesia–Mesir memasuki tahap baru ketika Prabowo dan El-Sisi menandatangani Pernyataan Bersama tentang Kemitraan Strategis di Istana Al Ittihadiya, Kairo, pada 12 April 2025.

Kesepakatan tersebut mencakup komitmen memperkuat kerja sama politik, ekonomi, keamanan, pertahanan, budaya, pendidikan, serta hubungan antarmasyarakat.

Kedua negara juga menempatkan hubungan historis sebagai landasan pengembangan kemitraan bilateral.

Dalam pernyataan bersama yang disahkan kedua presiden, disebutkan bahwa peningkatan hubungan didasarkan pada nilai keadilan, saling menghormati, dan saling percaya.

Kemitraan tersebut menjadi kerangka bagi agenda kerja sama yang kembali dibahas dalam kunjungan El-Sisi ke Jakarta.

Penandatanganan dokumen mengenai visa, statistik, dan perikanan yang dijadwalkan pada 11 Oktober merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama sektoral kedua negara.

Pada Juli 2026, Menteri Luar Negeri Indonesia yang kala itu masih dijabat Sugiono dan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty juga membahas implementasi kemitraan strategis dalam pertemuan di sela-sela rangkaian pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Manila, Filipina.

Kementerian Luar Negeri RI menyebut peluang kerja sama yang dibahas mencakup perdagangan, investasi, industri, pendidikan, kesehatan, energi, dan riset. Kedua pihak juga membicarakan peningkatan kesempatan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia dan kerja sama antarlembaga pendidikan tinggi.

Sugiono menekankan pentingnya pelaksanaan kesepakatan yang telah dibangun kedua negara.

“Penguatan implementasi Kemitraan Strategis Indonesia-Mesir merupakan hal penting untuk mempercepat realisasi kerja sama Indonesia–Mesir yang saling menguntungkan,” ujar Sugiono dalam keterangan Kementerian Luar Negeri pada 26 Juli 2026.

Perdagangan dan Akses Pasar Afrika Utara

Kepentingan ekonomi menjadi salah satu dimensi penting dalam hubungan Indonesia–Mesir. Data Kementerian Perdagangan menunjukkan total perdagangan kedua negara sepanjang 2025 mencapai US$2,38 miliar, dengan surplus Indonesia sekitar US$1,50 miliar.

Ekspor Indonesia ke Mesir pada 2025 tercatat US$1,94 miliar, sedangkan impor dari Mesir mencapai US$439,8 juta. Produk ekspor utama Indonesia meliputi lemak dan minyak hewan atau nabati, kopi, teh, rempah-rempah, mesin dan peralatan listrik, bahan kimia anorganik, serta aluminium.

Adapun produk yang diimpor Indonesia dari Mesir antara lain pupuk, garam, belerang, kapur, buah-buahan, sayuran, serta bijih dan kerak logam.

Pada Januari–Juni 2026, total perdagangan kedua negara mencapai US$1,74 miliar. Ekspor Indonesia tercatat US$1,09 miliar, sementara impor dari Mesir sebesar US$647,70 juta.

Pemerintah Indonesia juga mendorong penjajakan perjanjian perdagangan melalui skema Preferential Trade Agreement (PTA) dan Free Trade Agreement (FTA). Dalam pertemuan di Jaipur, India, pada 7 Agustus 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso membahas rencana tersebut dengan Menteri Investasi dan Perdagangan Luar Negeri Mesir Mohamed Farid Saleh.

Kedua pihak juga membicarakan penyelenggaraan pertemuan kedua Komite Perdagangan Bersama atau Joint Trade Committee pada 2026.

Mesir turut mengusulkan pembentukan usaha patungan di sektor industri pakaian jadi dan pertemuan untuk menjembatani perdagangan produk pertanian.

Bagi Indonesia, perluasan akses pasar Mesir berpotensi memperkuat penetrasi produk nasional di Afrika Utara dan kawasan sekitarnya. Namun, realisasi peluang tersebut bergantung pada hasil perundingan perdagangan, ketentuan impor, biaya logistik, dan daya saing produk.

Palestina dan Posisi Geopolitik Mesir

Di luar perdagangan, hubungan Indonesia–Mesir memiliki dimensi geopolitik yang berkaitan dengan Palestina dan stabilitas Timur Tengah.

Mesir berbatasan langsung dengan Jalur Gaza melalui Rafah dan memiliki posisi penting dalam diplomasi regional serta penyaluran bantuan kemanusiaan. Indonesia, sementara itu, secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara.

Dalam kunjungan Prabowo ke Kairo pada Desember 2024, kedua presiden membahas kerja sama untuk mendorong perdamaian di Palestina. Prabowo juga menyampaikan apresiasi terhadap peran Mesir dalam upaya mediasi dan penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza.

“Kami akan bekerja sama bersama Mesir untuk mencari solusi perdamaian yang urgent bagi Palestina dan kawasan. Dan tentunya kami mendukung kemerdekaan Palestina dan solusi dua negara,” kata Prabowo dalam keterangan pers bersama El-Sisi pada 18 Desember 2024.

Dalam konteks geopolitik, Mesir memiliki posisi yang menghubungkan kepentingan Afrika Utara, dunia Arab, dan kawasan Mediterania. Negara itu juga mengendalikan Terusan Suez, salah satu jalur pelayaran utama perdagangan global yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Mediterania.

Stabilitas kawasan dan kelancaran jalur pelayaran tersebut memiliki implikasi terhadap perdagangan internasional, biaya logistik, serta rantai pasok.

Bagi Indonesia, hubungan dengan Mesir karena itu tidak hanya berkaitan dengan diplomasi bilateral, tetapi juga kepentingan ekonomi dan stabilitas kawasan.

Indonesia dan Mesir juga memiliki ruang koordinasi melalui forum multilateral, termasuk BRICS.

Kedua negara dapat menggunakan forum tersebut untuk membahas kepentingan ekonomi dan perkembangan internasional, meskipun keanggotaan dalam forum yang sama tidak otomatis membuat keduanya memiliki posisi identik dalam setiap persoalan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.