Menurut Arif, kawasan hidrologis gambut menjadi ruang hidup bagi sekitar 41 juta penduduk. Karena itu, tata kelola gambut perlu dirancang dengan mempertimbangkan aspek lingkungan sekaligus kehidupan masyarakat.

Pelibatan ilmuwan tersebut sebenarnya telah diarahkan Prabowo sebelum pertemuan 24 September. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 16 September, Prabowo secara khusus meminta agar para pakar gambut dilibatkan dalam pembahasan.

“Saya ingin langsung bertatap muka dengan para pakar gambut yang ada di Indonesia, dan juga yang dari luar negeri,” ujar Prabowo saat itu.

Prabowo juga meminta pembahasan melibatkan BRIN dan perguruan tinggi.

“Tapi mungkin kita juga ada dari BRIN, dari fakultas-fakultas, saya minta kita bahas benar-benar masalah gambut ini, dan kita mulai ambil langkah-langkah yang benar-benar menyeluruh untuk kita selesaikan,” katanya.

Pertemuan dengan para ilmuwan gambut pada 24 September tersebut berlangsung hanya beberapa hari setelah Prabowo melontarkan pernyataan keras mengenai sejumlah pakar.

Dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026), Prabowo menanggapi kritik dari pihak yang disebutnya sebagai pakar.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.