Prabowo kemudian mengatakan terdapat sejumlah pakar yang menurutnya telah melontarkan fitnah. Ia menyatakan memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut dan membuka kemungkinan memaafkan pihak yang bersangkutan apabila menyadari kesalahannya.

Dalam pidato yang sama, Prabowo menekankan pentingnya kejujuran intelektual bagi kalangan cendekiawan.

“Kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur. Itu namanya kejujuran intelektual,” ujar Prabowo.

Prabowo juga mengaitkan kritik tersebut dengan kepentingan bangsa ketika menyebut pentingnya seorang intelektual tidak mengabdi kepada kepentingan bangsa lain.

Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Menteri HAM Natalius Pigai. Pigai mengatakan kritik terhadap kebijakan pemerintah tetap diperlukan ketika terdapat kekurangan, tetapi menurutnya penilaian juga perlu melihat capaian dan manfaat kebijakan secara keseluruhan.

“Jadi, para pakar itu jangan meniadakan kebaikan-kebaikan pemerintah. Harus juga mengucapkan kebaikan-kebaikan pemerintah. Baru kalau ada sisi manajemen yang kurang, dikritisi, tidak masalah,” kata Pigai, Selasa (22/9/2026).

Sementara itu, dalam agenda pengelolaan gambut, pemerintah kembali membuka ruang bagi kalangan akademisi dan peneliti untuk memberikan masukan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.