JAKARTA — Para uskup Katolik dari berbagai negara Asia membuka Sidang Raya XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) di Jakarta pada Senin (21/7), dengan menyerukan agar Gereja semakin berperan sebagai jembatan dialog, rekonsiliasi, dan perdamaian di tengah kawasan yang menghadapi berbagai tantangan sosial, kemanusiaan, dan geopolitik.
Sidang yang berlangsung pada 20–26 Juli itu dihadiri sekitar 140 peserta, terdiri atas para kardinal, uskup, imam, biarawan-biarawati, dan umat awam dari 22 konferensi waligereja di Asia. Pertemuan mengusung tema “Konversi Sinodal dan Misi Menjadi Jembatan serta Pembangun Jembatan di Asia”.
Presiden FABC, Kardinal Filipe Neri Ferrão, mengatakan Gereja di Asia dipanggil untuk membangun relasi yang lebih erat melalui semangat sinodal, yaitu berjalan bersama, saling mendengarkan, dan berdialog.
“Misi Gereja tidak hanya memperkuat kehidupan internal umat Katolik, tetapi juga menghadirkan harapan dan rekonsiliasi di tengah masyarakat Asia yang beragam dari sisi agama, budaya, dan etnis,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Wakil Presiden FABC, Kardinal Pablo Virgilio David, mengatakan tema sidang mencerminkan panggilan Gereja untuk menjadi “jembatan dan pembangun jembatan” di tengah dunia yang semakin terpolarisasi.
Ia mengaitkan tema tersebut dengan pesan Injil Yohanes, “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu”, seraya mengajak Gereja di Asia untuk terus bertumbuh dalam semangat pelayanan, persaudaraan, dan keterbukaan terhadap sesama.
Selama sepekan, para peserta akan mengikuti perayaan ekaristi, doa bersama, refleksi rohani, diskusi kelompok, serta proses Conversation in the Spirit, sebuah metode discernment yang dikembangkan dalam Sinode tentang Sinodalitas di Gereja Katolik.
Sidang juga dijadwalkan menghasilkan dokumen akhir yang akan menjadi arah pastoral Gereja Katolik di Asia dalam beberapa tahun mendatang, serta pesan bersama bagi umat Katolik di seluruh kawasan.
Paus Leo XIV menunjuk Kardinal Oswald Gracias, Uskup Agung Emeritus Bombay, sebagai utusan khusus Takhta Suci dalam Sidang Raya XII FABC. Paus juga dijadwalkan menyampaikan pesan kepada para peserta selama penyelenggaraan sidang.
Indonesia menjadi tuan rumah Sidang Raya FABC untuk kedua kalinya setelah Bandung menjadi penyelenggara Sidang Raya V pada 1990.
Pemilihan Jakarta dinilai mencerminkan pengalaman Indonesia dalam mengelola kehidupan masyarakat yang majemuk. Selama berada di ibu kota, para peserta juga dijadwalkan mengunjungi Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang dihubungkan oleh Terowongan Silaturahmi, yang menjadi simbol dialog dan persaudaraan antarumat beragama.
Didirikan pada 1970, FABC merupakan wadah kerja sama para uskup Katolik di Asia. Sidang raya yang umumnya diselenggarakan setiap empat tahun merupakan forum tertinggi organisasi tersebut untuk merumuskan arah pelayanan dan misi Gereja Katolik di kawasan Asia.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan