Sementara itu, Bank Indonesia sebelumnya mencatat harga minyak dunia sempat menyentuh 132 dolar AS per barel akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, sebelum kembali berada di bawah 100 dolar AS pada 22 September.
Kondisi tersebut membuat pergerakan harga energi menjadi salah satu faktor yang terus dicermati bank sentral karena dapat memengaruhi inflasi dan keseimbangan eksternal.
The Fed Menambah Tekanan
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebijakan moneter Amerika Serikat.
Bank Indonesia (BI) mencatat Fed Funds Rate berada di kisaran 3,75–4 persen pada September 2026, dengan kemungkinan kenaikan kembali yang masih tinggi.
BI menilai kebijakan moneter global yang lebih ketat, ditambah kenaikan imbal hasil surat utang AS, membuat minat investor terhadap aset negara berkembang masih tertahan.
Kondisi ini menjadi penting bagi rupiah karena perubahan imbal hasil aset dolar AS dapat memengaruhi arus modal global dan permintaan terhadap mata uang negara berkembang.
Sehari sebelum rupiah kembali melemah, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026.
BI juga mempertahankan Deposit Facility 4,75 persen dan Lending Facility 6,50 persen.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan