JAKARTA — Rupiah kembali mendapat tekanan pada perdagangan Kamis (24/9/2026), sehari setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Tekanan kali ini datang dari kombinasi kenaikan harga minyak dunia dan menguatnya dolar Amerika Serikat di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Mengacu pada perdagangan pagi, rupiah dibuka melemah 46 poin atau 0,26 persen ke level Rp17.864 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.818 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi kembali melonjaknya harga minyak setelah Iran meragukan kemajuan perundingan perdamaian dengan Amerika Serikat.
“Harga minyak kembali melonjak setelah Iran meragukan kemajuan dalam perundingan perdamaian,” kata Lukman di Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Harga Minyak Kembali Jadi Tekanan
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena Indonesia masih menghadapi kebutuhan impor energi.
Pergerakan harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan eksternal sekaligus memperbesar risiko inflasi melalui biaya energi dan transportasi.
Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November tercatat naik 1,81 persen menjadi 92,16 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan di New York Mercantile Exchange.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan