Menurut Iwan, perbedaan kepentingan politik tersebut belum otomatis berarti hubungan personal maupun politik Jokowi dan Prabowo telah pecah.

Pandangan lain datang dari Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti. Ia membaca pernyataan Jokowi mengenai PSI yang mulai “ditakuti” sebagai sinyal kemungkinan perubahan hubungan politik dengan Prabowo. Namun, pembacaan tersebut merupakan interpretasi politik, bukan pernyataan resmi Jokowi bahwa dirinya berseberangan dengan Prabowo.

Lalu bagaimana secara elektoal, apakah pernyataan Jokowi tersebut dapat dinilai sebagai ancaman terhadap Gerindra?

Jika berkaca pada data Pemilu 2024, memperlihatkan jarak elektoral antara PSI dan Gerindra.

Gerindra memperoleh 20.071.708 suara atau sekitar 13,22 persen dan mendapatkan 86 kursi DPR. PSI memperoleh 4.260.169 suara atau sekitar 2,81 persen dan tidak memperoleh kursi DPR karena berada di bawah ambang batas parlemen 4 persen.

Dalam survei Poltracking Indonesia pada 14–20 Agustus 2026, elektabilitas Gerindra tercatat 23,2 persen, sedangkan PSI 2,3 persen. Survei tersebut melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi dengan margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa secara elektoral PSI masih berada jauh di bawah Gerindra.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.