Setelah memperoleh persetujuan, kereta bekas diperkirakan dapat didatangkan dalam satu hingga dua bulan, sedangkan pengadaan kereta baru dapat membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.
Bobby menyebut impor tersebut hanya dimaksudkan sebagai solusi transisi sambil kapasitas produksi dalam negeri diperkuat.
“Kalau kita impor baru, nantinya produksi kereta dalam negeri akan terganggu. Kalau bekas ini hanya untuk transisi,” ujar Bobby.
AHY: Jepang Boleh, Industri Nasional Harus Tumbuh
AHY tidak menutup kemungkinan kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan perkeretaapian. Namun, kerja sama tersebut menurutnya harus tetap berjalan bersama agenda penguatan industri nasional.
“Kerja sama dengan negara-negara lain, termasuk Jepang, tentu sesuatu yang normal. Tetapi industri kereta api nasional juga harus terus tumbuh dan semakin mandiri,” ujar AHY.
Ia menilai kerja sama internasional seharusnya tidak berhenti pada pengadaan sarana. Transfer teknologi menjadi bagian penting agar kemampuan industri nasional dapat terus berkembang.
“Yang paling penting semangatnya bagaimana industri perkeretaapian nasional juga berkembang. Ada transfer of technology yang kemudian kita kembangkan sendiri menjadi inovasi domestik yang dibutuhkan untuk ke depan,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan