BOGOR — Potensi nasabah haji menjadi salah satu pasar yang dilirik dalam pengembangan perbankan syariah di Indonesia. Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Ermarini menilai kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan syariah, khususnya untuk persiapan ibadah haji, masih sangat besar.

Anggia mengatakan karakteristik ibadah haji yang berkaitan dengan aspek spiritual membuat masyarakat memiliki pertimbangan khusus dalam memilih layanan perbankan.

“Nasabah haji itu besar sekali. Pilihannya memang karena haji sangat spesifik dengan spiritual, sangat spesifik dengan masalah ibadah. Masyarakat Indonesia lebih memilih untuk masuk ke tabungan hajinya melalui BSI,” ujar Anggia dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Besarnya potensi tersebut terlihat dari basis nasabah haji yang telah dihimpun PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Hingga Juli 2026, jumlah nasabah haji BSI mencapai 7,8 juta nasabah.

Dari jumlah tersebut, sekitar 46 persen merupakan generasi Z dan kelompok anak muda.

Dari sisi dana, Tabungan Haji BSI mencapai Rp17,1 triliun, atau tumbuh 16,02 persen. BSI menyebut pertumbuhan tersebut menjadi bagian dari penguatan ekosistem haji dan umrah serta meningkatnya minat masyarakat menyiapkan ibadah haji sejak usia muda.

5,9 Juta Masuk Daftar Tunggu

Potensi pasar tersebut juga berkaitan dengan panjangnya antrean keberangkatan haji di Indonesia. BSI mencatat sekitar 5,9 juta orang berada dalam daftar tunggu haji.

Angka tersebut menunjukkan adanya basis calon jemaah yang membutuhkan layanan keuangan untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.

Sementara itu, pemerintah menetapkan kuota haji reguler Indonesia untuk 1447 Hijriah/2026 Masehi sebanyak 203.320 orang.

Jumlah itu terdiri atas 191.419 jemaah haji tahun berjalan, 10.166 jemaah prioritas lanjut usia, 685 pembimbing KBIHU, dan 1.050 petugas haji daerah.

Kesenjangan antara jumlah pendaftar dalam daftar tunggu dan kuota keberangkatan membuat kebutuhan perencanaan keuangan haji berlangsung dalam jangka panjang.

Kondisi tersebut menjadi ruang bagi perbankan syariah untuk membangun hubungan dengan calon jemaah sejak tahap awal pendaftaran.

Anggia mengatakan potensi perbankan syariah secara keseluruhan masih terbuka luas. Tidak hanya melalui layanan haji, tetapi juga berbagai kebutuhan finansial masyarakat.

“Potensi perbankan syariah atau finansial syariah di Indonesia sebenarnya besar sekali. Masih ada peluang yang terbuka lebar yang bisa diambil oleh BSI dan BSN,” jelas politikus Fraksi PKB tersebut.

Anak Muda Mulai Masuk

Data BSI menunjukkan perubahan demografi nasabah haji juga mulai terlihat. Dari 7,8 juta nasabah haji yang tercatat hingga Juli 2026, 46 persen di antaranya merupakan Gen Z dan anak muda.

BSI menyebut pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya kesadaran generasi muda untuk mempersiapkan ibadah haji sejak dini.

BSI juga menyediakan tabungan haji dengan setoran awal Rp100 ribu dan tanpa biaya administrasi bulanan. Pembukaan rekening dapat dilakukan melalui layanan digital BYOND by BSI, termasuk fasilitas autodebet untuk membantu nasabah merencanakan tabungan.

Bagi industri perbankan syariah, besarnya daftar tunggu haji sekaligus pertumbuhan nasabah muda menciptakan pasar yang tidak hanya berkaitan dengan transaksi saat keberangkatan.

Hubungan dengan calon jemaah dapat terbentuk sejak mereka mulai menabung hingga memasuki tahapan pelunasan biaya haji.

“Saya pikir perbankan syariah itu menjadi masa depan karena secara global pun pilihan bagi masyarakat untuk memilih konvensional atau syariah merupakan pilihan yang menarik, khususnya bagi masyarakat muslim,” kata Anggia.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.