JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menetapkan Thomas Sugiarto Oentoro sebagai Direktur Utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Kamis (8/10/2026). Thomas menggantikan Glenny H. Kairupan yang ditetapkan sebagai Komisaris Utama menggantikan Fadjar Prasetyo.
Sebelum menjabat direktur utama, Thomas merupakan Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia sejak Oktober 2025. Ia juga pernah menjabat Komisaris Independen Garuda Indonesia pada 2023–2024.
Pergantian tersebut berlangsung ketika Garuda Indonesia Group mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan penurunan rugi bersih pada semester I-2026.
Namun, perusahaan juga menghadapi peningkatan beban bahan bakar pesawat atau avtur.
Pendapatan Garuda Tumbuh 16 Persen
Garuda Indonesia Group membukukan pendapatan sebesar US$1,80 miliar sepanjang Januari–Juni 2026, meningkat 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1,55 miliar.
Berdasarkan laporan kinerja semester I-2026 yang terbit pada 2 Oktober 2026, rugi bersih perusahaan menyusut 23,2 persen menjadi US$113 juta dari US$147,1 juta pada semester I-2025.
Laba sebelum bunga dan pajak atau earnings before interest and taxes (EBIT) meningkat 12,7 persen menjadi US$74 juta dari US$65,7 juta.
Di tengah pertumbuhan pendapatan tersebut, beban avtur meningkat 43,6 persen menjadi US$677,6 juta.
Porsi beban avtur terhadap pendapatan naik menjadi sekitar 37,7 persen dari 30,5 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, beban keuangan turun 11,6 persen menjadi US$222,4 juta dari US$251,6 juta.
Pendapatan penerbangan berjadwal Garuda Indonesia Group mencapai US$1,31 miliar, naik 10,9 persen dibandingkan semester I-2025.
Pendapatan penumpang pada segmen tersebut meningkat 11,5 persen menjadi US$1,23 miliar.
Pendapatan penerbangan tidak berjadwal naik 32,5 persen menjadi US$272,8 juta.
Pada segmen angkutan haji, pendapatan tercatat sebesar US$232,2 juta, meningkat 51,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adapun pendapatan bisnis perawatan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) meningkat 43,8 persen menjadi US$87,4 juta.
Rekam Jejak Thomas Oentoro
Sebelum kembali ke jajaran direksi Garuda Indonesia, Thomas menjabat sebagai Chief Risk Officer Indonesia Investment Authority (INA) pada 2024–2025.
Ia sebelumnya meninggalkan posisi Komisaris Independen Garuda Indonesia setelah ditunjuk sebagai anggota dewan direktur lembaga pengelola investasi tersebut.
Pengalaman Thomas di sektor keuangan juga mencakup posisi Vice President Mezzanine Capital Unit di OCBC dan Managing Director di KV Asia Capital.
Thomas menempuh pendidikan bidang keuangan di NYU Stern School of Business dan meraih gelar Master of Business Administration (MBA) dari University of Chicago Booth School of Business.
Ia kembali masuk ke jajaran manajemen Garuda pada Oktober 2025 sebagai Wakil Direktur Utama sebelum ditetapkan menjadi direktur utama melalui RUPSLB pada 8 Oktober 2026.
Perubahan Susunan Direksi dan Komisaris
RUPSLB juga menyetujui perubahan sejumlah posisi dalam jajaran direksi dan dewan komisaris Garuda Indonesia.
Alan McIntyre ditunjuk sebagai Direktur Komersial. Sebelumnya, ia memiliki pengalaman sebagai Executive Manager Strategy di Qantas Group dan Chief Customer and Commercial Officer di Jetstar.
Eric Ferdinand Sofyal ditetapkan sebagai Direktur Operasi setelah sebelumnya menjabat Direktur Operasi Citilink.
Dina Sandri Fani mengisi posisi Direktur Human Capital & Corporate Service, sedangkan Neil Raymond Mills tetap menjabat Direktur Transformasi.
Di jajaran komisaris, Glenny H. Kairupan ditetapkan sebagai Komisaris Utama. RUPSLB juga menunjuk Jaan Albrecht dan Trey Urbahn sebagai Komisaris Independen.
Albrecht memiliki pengalaman di industri penerbangan internasional, termasuk di Saudia Airlines, Austrian Airlines, dan Star Alliance.
Sementara itu, Urbahn memiliki pengalaman dalam fungsi penasihat dan pengawasan di sejumlah perusahaan penerbangan.
Berikut susunan direksi Garuda Indonesia setelah RUPSLB 8 Oktober 2026:
- Direktur Utama: Thomas Sugiarto Oentoro
- Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko: Balagopal Kunduvara
- Direktur Operasi: Eric Ferdinand Sofyal
- Direktur Teknik: Mukhtaris
- Direktur Komersial: Alan McIntyre
- Direktur Human Capital & Corporate Service: Dina Sandri Fani
- Direktur Transformasi: Neil Raymond Mills
Adapun susunan dewan komisaris setelah RUPSLB adalah:
- Komisaris Utama: Glenny H. Kairupan
- Komisaris: Sugito Anjasmoro
- Komisaris: Chairal Tanjung
- Komisaris Independen: Mawardi Yahya
- Komisaris Independen: Jaan Albrecht
- Komisaris Independen: Trey Urbahn
Diketahui, Garuda Indonesia Group mengoperasikan 104 pesawat hingga akhir Juni 2026. Jumlah tersebut mencakup armada Garuda Indonesia dan Citilink.
Data kinerja semester I-2026 menunjukkan pendapatan grup mencapai US$1,80 miliar, dengan rugi bersih US$113 juta dan beban avtur US$677,6 juta.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan