Dengan demikian, terdapat urutan politik yang tidak sederhana. Jokowi lebih dahulu membangun modal politik melalui perjalanan panjang hingga menjadi presiden. Ketika masih menjabat sebagai kepala negara, Kaesang masuk PSI dan dalam waktu singkat mengambil posisi formal sebagai Ketua Umum. Beberapa tahun kemudian, Jokowi masuk ke partai yang dipimpin Kaesang.
Di situlah Jokowi Effect memasuki persoalan yang lebih besar daripada popularitas seorang tokoh.
Dari PDIP ke PSI
Jokowi membangun sebagian awal karier politiknya melalui PDIP. Ia pernah menyebut karier politiknya bermula dari lingkungan PDIP di Solo, sebelum perjalanan politiknya bergerak dari Solo ke Jakarta dan kemudian ke Istana.
Hubungan tersebut kemudian berubah. PDIP resmi memberhentikan Jokowi sebagai kader, efektif 14 Desember 2024.
PSI menjadi arena politik berikutnya.
Perpindahan itu menarik bukan semata karena Jokowi meninggalkan satu partai dan masuk ke partai lain, tetapi karena modal politik yang terbentuk dalam perjalanan tersebut kini berada dalam organisasi dengan struktur kepemimpinan yang berbeda.
Dan struktur itu sudah lebih dahulu memiliki Kaesang sebagai pemimpin formal.
Kaesang Tidak Memulai dari Ruang Kosong
Di sinilah perbandingan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi relevan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan