Karena itu, hubungan politik yang sama tidak selalu menghasilkan kepentingan yang sama pada setiap arena.
PSI dapat memiliki kepentingan sebagai organisasi partai, sementara Jokowi, Kaesang, Gibran, Prabowo, dan partai-partai lain memiliki posisi institusional masing-masing.
Hubungan personal atau keluarga tidak otomatis menghapus kepentingan institusional tersebut.
PSI dan Persoalan 2029
Ada konteks elektoral yang membuat masuknya Jokowi ke PSI semakin relevan.
PSI gagal melewati ambang batas parlemen dalam dua pemilu terakhir. Pada Pemilu 2019, PSI memperoleh 2.650.361 suara atau sekitar 1,89 persen. Pada Pemilu 2024, perolehan suaranya meningkat menjadi sekitar 4,26 juta atau 2,81 persen, tetapi tetap berada di bawah ambang batas parlemen 4 persen.
Karena itu, menuju 2029 PSI menghadapi persoalan institusional, bagaimana mengubah eksistensi politik dan dukungan elektoral menjadi representasi di DPR.
PSI sendiri telah mulai menyiapkan mesin politik untuk Pemilu 2029, termasuk penguatan struktur hingga tingkat akar rumput. Kaesang pada April 2026 menyebut struktur tersebut dipersiapkan hingga tingkat desa.
Masuknya Jokowi berlangsung dalam konteks tersebut.
Ia tidak masuk ke partai yang sedang berhenti bergerak. Ia masuk ketika PSI sedang membangun struktur organisasi dan menyiapkan kontestasi elektoral berikutnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan