Karena itu, masuk akal untuk membaca PSI sebagai salah satu kendaraan politik yang semakin penting dalam konfigurasi politik Jokowi setelah 2024. Apalagi terdapat rumor yang untuk menyatakan bahwa PSI sejak awal telah disiapkan Jokowi sebagai kendaraan politik untuk seluruh agenda setelah kepresidenannya.
Terlepas dari hal tersebut, yang sedang diuji adalah apakah modal politik Jokowi akan berubah menjadi kekuatan institusional PSI, atau PSI justru berkembang menjadi institusi politik dengan kepentingannya sendiri.
Dengan Jokowi berada di dalam PSI dan Kaesang memimpin partai tersebut, persoalannya bukan lagi sekadar siapa memengaruhi siapa. Persoalannya adalah apakah Jokowi Effect dapat berubah dari pengaruh personal menjadi kekuatan institusional.
Di satu sisi, Jokowi membawa modal politik yang dibangun selama bertahun-tahun hingga ke puncak kekuasaan negara. Di sisi lain, Kaesang memiliki otoritas formal atas partai. Keduanya bertemu dalam satu organisasi, tetapi tidak berada dalam posisi yang identik.
Karena itu, PSI menuju 2029 menjadi ruang untuk menguji batas antara kekuasaan personal dan kekuasaan institusional. Jika modal politik Jokowi berhasil diterjemahkan menjadi struktur, kaderisasi, elektabilitas, dan representasi politik PSI, maka Jokowi Effect tidak lagi sekadar efek popularitas seorang mantan presiden. Ia telah mengalami pelembagaan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan