Indonesia saat ini masih mengalami defisit pelatih berlisensi AFC jika dibandingkan dengan luas wilayah dan populasi usia muda. Tanpa pelatih berlisensi di tingkat akar rumput (grassroots), bakat yang terdeteksi lewat platform digital tidak akan mendapatkan penanganan teknis yang benar.
Sistem pencarian bakat harus terhubung langsung dalam satu ekosistem utuh yang mengintegrasikan kompetisi usia muda, akademi klub, pelatih bersertifikasi, serta kepastian jumlah pertandingan minimum 30 hingga 40 laga per musim bagi setiap pemain muda.
Ketimpangan Kompetisi dan Peran Kunci Pemda
Ketimpangan penyelenggaraan kompetisi antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi PSSI dan pemerintah daerah.
Sebagai gambaran, pada September 2026, kompetisi Piala Soeratin U-13, U-15, dan U-17 tingkat provinsi di Bangka Belitung batal digelar, yang berdampak langsung pada hilangnya jam terbang resmi serta sarana evaluasi bagi pemain muda lokal.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan Kota Depok, Jawa Barat, yang berhasil menggelar Piala Soeratin U-13 dan U-15 dengan melibatkan 42 klub secara kompetitif.
Kondisi kontras ini membuktikan bahwa pembangunan sepak bola daerah tidak bisa dibebankan kepada PSSI pusat semata.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan