Menurut Marcel Gual, sapaan akrabnya, perbedaan tersebut terlihat ketika pengaruh Jokowi ditempatkan dalam konteks elektabilitas PSI.

“Di sinilah persoalannya. Jokowi memiliki pengaruh politik yang dapat dibaca dari sejumlah survei, tetapi pengaruh personal itu belum otomatis menjadi suara PSI dalam skala yang sama. Ada jarak antara popularitas patron dengan kekuatan institusi partai,” ujar Marcel.

Ia mengatakan, posisi PSI dalam survei Poltracking perlu dibaca sebagai data elektoral pada saat survei dilakukan. PSI memang tercatat 2,3 persen, berada di atas PPP yang berada di 1,9 persen, tetapi angka tersebut belum menggambarkan hasil Pemilu 2029.

Marcel Gual juga mengaitkan temuan tersebut dengan pernyataan Jokowi dalam Rakorda PSI Kota Bandung mengenai pentingnya struktur partai.

“Ketika Jokowi mengatakan struktur harus hidup dan bekerja, itu bisa dibaca sebagai kesadaran bahwa figur tidak cukup. Pengaruh personal harus diterjemahkan oleh organisasi, kader, jaringan daerah, calon legislatif, dan kerja politik yang berlangsung sampai tingkat pemilih,” katanya.

Menurut Marcel Gual, dua pengalaman PSI dalam Pemilu 2019 dan 2024 menjadi konteks untuk melihat proses konversi tersebut.

“Jadi, saya tidak melihatnya sebagai pertanyaan apakah Jokowi Effect ada atau tidak ada. Data justru menunjukkan ada pengaruh personal Jokowi. Pertanyaan politiknya adalah seberapa jauh pengaruh itu dapat dikonversi menjadi kekuatan elektoral PSI,” ungkap dia.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.