Karena itu, temuan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa nama-nama tertentu menempati bangunan tersebut atau telah terjadi transaksi ilegal.
Tetapi ada pertanyaan yang tetap penting. Siapa yang memberikan akses? Siapa yang berwenang menentukan penggunaan ruang tersebut? Apa dasar pemberian fasilitas?
Dan jika memang terdapat perbedaan fasilitas bagi warga binaan, apa dasar aturannya?
Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada Shawshank.
Dalam film, kekuasaan tidak hilang ketika seseorang masuk penjara. Ia justru bekerja melalui jabatan, pengetahuan, akses dan hubungan.
Cibinong tentu bukan Shawshank. Yang satu adalah fiksi, yang lain adalah institusi nyata yang sedang diperiksa.
Tetapi keduanya bertemu pada satu persoalan. Bahwa penjara tidak pernah hanya tentang tembok dan jeruji. Ia juga tentang siapa yang memiliki kewenangan di baliknya.
Dan ketika kewenangan itu menciptakan perbedaan akses, pertanyaan tentang kesetaraan menjadi tidak terhindarkan.
Siapa yang memiliki akses, siapa yang memberikan akses, dan apakah aturan berlaku sama bagi semua?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan