Selain itu, perusahaan akan mengembangkan sejumlah bisnis baru, mulai dari produksi metanol beserta turunannya, pengembangan clean ammonia, hingga bisnis pendukung industri lainnya.
Transformasi tersebut juga berdampak pada peningkatan layanan kepada petani. Sepanjang 2025, Pupuk Indonesia berhasil menyalurkan 8,11 juta ton pupuk bersubsidi, meningkat 10,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan itu didukung implementasi sistem i-Pubers yang mempermudah proses penebusan pupuk serta penerapan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menyederhanakan tata kelola distribusi pupuk bersubsidi.
Hingga 12 Juli 2026, Pupuk Indonesia telah menyalurkan 5,13 juta ton pupuk bersubsidi, atau sekitar 52 persen dari total alokasi pemerintah sebesar 9,8 juta ton.
Dengan kapasitas produksi nasional mencapai sekitar 14,8 juta ton per tahun, perusahaan memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap terpenuhi sekaligus memiliki ruang untuk memanfaatkan peluang pasar global.
Rahmad menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan bukan semata mengejar laba, melainkan membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh petani dan pelaku usaha di seluruh Indonesia.
“Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, melainkan memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput,” pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan