Kebijakan tersebut disebut konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Gubernur BI Destry Damayanti menyebut prospek ekonomi global belum kuat dan ketidakpastian pasar keuangan masih tinggi.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 sekitar 3 persen, sementara tekanan inflasi global meningkat sekitar 4,6 persen.
Dari sisi domestik, BI mencatat rupiah berada di level Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026, melemah terbatas 0,78 persen secara point to point dibandingkan akhir Agustus.
BI menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen moneter, termasuk kebijakan untuk memperkuat aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Rupiah Masih Dibayangi Sentimen Global
Lukman memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis bergerak dalam kisaran Rp17.800–Rp17.950 per dolar AS.
Dengan demikian, tekanan terhadap rupiah pada perdagangan terbaru tidak hanya berkaitan dengan pergerakan nilai tukar domestik.
Harga minyak, arah kebijakan The Fed, imbal hasil aset dolar AS, serta perkembangan geopolitik Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang masih memengaruhi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan