Jokowi kini berada dalam konfigurasi semacam itu.
Ia masuk ke PSI ketika partai tersebut masih dipimpin Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum. Pada saat yang sama, PSI berada dalam konfigurasi pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, sementara partai tersebut harus membangun kekuatan politik sendiri menuju 2029.
Maka persoalannya bukan sekadar apa arti jabatan baru Jokowi, melainkan bagaimana Jokowi, PSI, dan Gerindra bergerak dalam beberapa arena politik secara bersamaan.
Di Balik Jokowi Masuk ke Organ Inti PSI
Secara struktural, posisi Ketua Dewan Pembina berbeda dengan Ketua Umum yang dijabat Kaesang Pangarep.
Kaesang memegang otoritas formal sebagai Ketua Umum, sedangkan Jokowi akan berada pada posisi Ketua Dewan Pembina. Konfigurasi tersebut mempertemukan dua jenis modal politik dalam satu struktur yakni otoritas organisasi di satu sisi dan pengalaman, jaringan, reputasi, serta modal simbolik seorang mantan presiden di sisi lain.
Dalam praktik politik, struktur formal bukan satu-satunya sumber pengaruh. Hubungan personal, pengalaman pemerintahan, jaringan elite, reputasi politik, dan kemampuan membangun komunikasi juga dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan semata-mata siapa yang memiliki pengaruh lebih besar di PSI. Yang lebih penting adalah bagaimana dua posisi tersebut bekerja dalam satu organisasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.


Tinggalkan Balasan